Korban Kereta Bintaro Menderita Luka Bakar  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mobil tangki bahan bakar terbakar setelah menabrak KRL di perlintasan Bintaro Permai (9/12). TEMPO/Dewi Rina

    Mobil tangki bahan bakar terbakar setelah menabrak KRL di perlintasan Bintaro Permai (9/12). TEMPO/Dewi Rina

    TEMPO.CO, Jakarta - Korban kecelakaan kereta rel listrik komuter Jabotabek rute Stasiun Serpong-Tanah Abang yang dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati bertambah menjadi tujuh orang. Dua korban terakhir masuk ke ruang gawat darurat sekitar pukul 13.45 WIB. 

    Ketujuh korban berjenis kelamin perempuan. "Enam korban menderita luka bakar," kata seorang petugas RS Fatmawati yang tak mau disebutkan namanya kepada Tempo, Senin, 9 Desember 2013. (Baca juga: Tabrakan Kereta Bintaro, Sopir Tangki Maksa Melintas?

    Seorang petugas rumah sakit mengatakan, korban yang paling parah adalah perempuan yang belum diketahui identitasnya. Tangan kanannya hangus terpanggang. Sementara sekujur tubuhnya terluka bakar. Bahkan, setiba di RS Fatmawati, bau hangus pun menyeruak. 

    Sejumlah pengunjung RS Fatmawati seketika histeris, terutama ibu-ibu. Mereka tampak menangis tersedu. Meski bukan keluarga, para ibu ini mengaku tersentuh hatinya. "Kasihan sekali kondisinya. Kok separah ini transportasi di Jakarta," kata Nurul Rochmah. 

    Saat ini, ketujuh korban masih dirawat intensif oleh sejumlah dokter di RS Fatmawati. Tampak beberapa dokter berseliweran keluar-masuk ruangan dengan masker yang masih menutup sebagian wajah mereka.

    INDRA WIJAYA

    Berita terkait
    Tabrakan Kereta Bintaro, Sopir Tangki Maksa Melintas ?
    Polisi: KNKT Selidiki Tabrakan Kereta Bintaro
    Tabrakan Kereta Bintaro, Sopir Tangki Maksa Melintas ?
    Ini Cerita Miris Tabrakan Kereta Bintaro 1987
    Insiden Kereta Bintaro, Pertamina Cek Truk Tangki


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.