Tabrakan Bintaro, Korban Berguling di Gerbong  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas Pemadam Kebakaran berusaha memadamkan warung di pinggir lintasan kereta api yang tersambar api dari kecelakaan commuter line Serpong-Tanah Abang di perlintasan Bintaro, Jakarta (9/12). TEMPO/Subekti.

    Petugas Pemadam Kebakaran berusaha memadamkan warung di pinggir lintasan kereta api yang tersambar api dari kecelakaan commuter line Serpong-Tanah Abang di perlintasan Bintaro, Jakarta (9/12). TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Susi Relahati adalah salah satu korban selamat dari kecelakaan kereta api rel listrik tujuan Stasiun Serpong-Tanah Abang dengan truk tangki bahan bakar minyak di perlintasan Bintaro Permai. Perempuan berusia 39 tahun ini hanya mengalami luka memar di lengan dan kaki kirinya.

    Karena lukanya yang tak terlalu serius, Susi pun diperkenankan pulang ke rumah. Sekitar pukul 15.45 WIB, Susi yang ditemani sang suami, Didik Sunardi, meninggalkan Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan, menumpang taksi. Sebelum meninggalkan rumah sakit, Susi sempat diwawancarai wartawan.

    Dia mengaku tak punya firasat apa pun sebelum menaiki KRL dari Stasiun Sudimara, Jakarta Selatan. Saat itu, Susi ingin pergi ke Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Sampai di Ulujami, tiba-tiba kereta yang dia tumpangi mengalami hantaman keras. Susi yang duduk di gerbong kedua sempat kaget dan panik.

    "Saat tabrakan, saya terguling-guling. Entah berapa kali," kata dia dengan raut wajah lelah dan syok. Begitu bangun, Susi mendengar suara ledakan keras. Refleks, dia ingin segera keluar dari gerbong. Namun, pintu gerbong tempat dia duduk terkunci. Dituntun naluri, Susi langsung bergegas menuju gerbong belakang mencari pintu keluar. 

    "Entah saya keluar dari gerbong berapa," kata perempuan berkemeja putih dan celana hitam itu. Namun, bukan hanya Susi yang bergegas menuju gerbong belakang, banyak penumpang lain yang juga ingin menyelamatkan diri.

    "Karena kondisi cukup ramai, sempat saling injak, bahkan saya juga sempat menginjak orang lain. Penumpang sudah tidak ada yang perhatikan orang lain," kata dia. Saat kejadian, Susi sempat menelepon suaminya, Didik. Namun sayang, Susi tak mau menceritakan lebih rinci. "Sudah ya Mas, kepala saya masih pusing."

    Saat ini, RS Fatmawati merawat tujuh korban kecelakaan KRL. Lima di antaranya menderita luka bakar serius. Selain RS Fatmawati, puluhan korban luka ditampung di tiga rumah sakit, seperti Rumah Sakit Pusat Pertamina, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dan Rumah Sakit dr Suyoto, Bintaro, Jakarta Selatan.

    INDRA WIJAYA

    Berita sebelumnya
    Cerita Miris Tabrakan Kereta Bintaro 1987 
    Insiden Kereta Bintaro, Pertamina Cek Truk Tangki
    Tabrakan Kereta Ulujami Mirip Tragedi Bintaro 
    Tabrakan Kereta Bintaro, Masinis Meninggal


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Terobosan Nadiem di Pendidikan, Termasuk Menghapus Ujian Nasional

    Nadiem Makarim mengumumkan empat agenda utama yang dia sebut "Merdeka Belajar". Langkah pertama Nadiem adalah rencana menghapus ujian nasional.