Kisah Korban Kereta Bintaro: Tak Ada Alat Darurat!

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas menjaga lokasi kejadian kecelakaan KRL saat warga yang penasaran mulai berdatangan untuk menyaksikan peristiwa di lintasan KRL Ulujami, Bintaro, Jakarta (9/12). Meski sudah diperingatkan dan dipasangi garis polisi sejumlah warga masih nekat mendekati lokasi.  (AP Photo/Tatan Syuflana)

    Petugas menjaga lokasi kejadian kecelakaan KRL saat warga yang penasaran mulai berdatangan untuk menyaksikan peristiwa di lintasan KRL Ulujami, Bintaro, Jakarta (9/12). Meski sudah diperingatkan dan dipasangi garis polisi sejumlah warga masih nekat mendekati lokasi. (AP Photo/Tatan Syuflana)

    TEMPO.CO, Jakarta - Kecelakaan kereta Commuterline Serpong-Tanah Abang di Jalan Bintaro Permai, Bintaro, Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan, menyisakan duka bagi para korban. Salah satunya adalah Rita Aryani Sebayang, perempuan, 42 tahun, yang menumpang gerbong nahas tersebut.

    Beruntung, Rita berhasil selamat dari tabrakan kereta dengan truk tangki bahan bakar minyak yang menewaskan enam orang itu. Berkat kuasa Tuhan, karyawati sebuah perusahaan asuransi itu hanya mengalami luka kecil di lengan. Kepada Tempo, Rita menuturkan pengalamannya lolos dari maut. Berikut ini kisahnya.

    Dengan posisi bersujud, saya berusaha untuk berpikir dan mencari jalan keluar dari gerbong yang mungkin sudah terguling. Sambil merangkak, saya mencari jalan, berdesakan dengan penumpang lain. Sekujur badan sakit lantaran terinjak atau tertendang penumpang lain yang juga berusaha meloloskan diri.

    Di tengah kepanikan, saya berpikir untuk membuka pintu atau memecahkan kaca jendela. Dalam kondisi setengah terbalik, tentu sulit untuk membuka pintu dengan cara mendorong paksa dari bawah ke atas. Selain itu, rasanya tidak mungkin menggeser pintu besi yang biasanya digerakkan dengan sistem hidrolik tersebut.

    Jalan keluar yang paling mungkin adalah memecahkan kaca jendela. Sesaat setelah memikirkan kemungkinan itu, saya terpikir untuk mencari palu dan memecahkan jendela.

    Seharusnya, alat seperti itu tersedia di gerbong kereta. Namun saya, dan mungkin juga penumpang lain, tidak bisa menemukan alat tersebut. Walhasil, kami hanya bisa pasrah sembari terus berupaya keluar.

    Di saat itu pula, saya merasa napas mulai sesak. Mungkin oksigen dalam gerbong mulai menipis, digantikan asap tebal yang mengotori paru-paru. Dalam kondisi itu, saya hanya bisa pasrah, melilitkan jilbab di kepala dan mencoba berdiri. Ya Allah, beri saya kekuatan. Begitu kalimat yang berkali-kali saya ucapkan, dalam kondisi separuh sadar dan pandangan yang mulai gelap.

    FERY FIRMANSYAH


    Topik Terhangat
    Kecelakaan Kereta Bintaro | Indonesia Surga Korupsi | Mandela Wafat | Blusukan di Tahanan KPK | Paul Walker

    Terpopuler
    Tragedi Kereta Bintaro, Truk Tangki Memaksa Masuk?
    Tabrakan Kereta Ulujami Mirip Tragedi Bintaro  
    Kronologi Kerusuhan di Little India, Singapura
    Ini Cerita Miris Tabrakan Kereta Bintaro 1987  
    Surga Korupsi, 756 Koruptor Cuma Divonis 2-5 Tahun


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.