Tragedi Bintaro I dan II Terjadi Hari Senin

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anak-anak berjalan di dekat lokasi kecelakaan antara kereta dengan truk tangki BBM di lintasan KRL Ulujami, Bintaro, Jakarta (9/12). REUTERS/Beawiharta

    Anak-anak berjalan di dekat lokasi kecelakaan antara kereta dengan truk tangki BBM di lintasan KRL Ulujami, Bintaro, Jakarta (9/12). REUTERS/Beawiharta

    TEMPO.CO, Purworejo - Kecelakaan kereta api di Bintaro, Tangerang Selatan, pada Senin, 9 Desember 2013, mengingatkan publik pada kejadian serupa 26 tahun lalu. Tragedi pada 19 Oktober 1987 juga terjadi pada hari Senin, di tempat yang tak terpaut jauh. "Senin pagi waktu itu," kata Slamet Suradio, 74 tahun, mantan masinis yang mengalami kecelakaan kereta Bintaro I, kepada Tempo, Selasa, 10 Desember 2013.

    Saat itu Slamet berusia 48 tahun. Ia mengemudikan KA 225 jurusan Rangkas Bitung-Tanah Abang. Lokomotif dengan enam gerbong kereta yang ia jalankan bertabrakan dengan KA 220 jurusan Kebayoran Lama-Merak di KM 17. Sekitar 10 menit sebelumnya, keretanya berhenti di Stasiun Sudimara pukul 07.05 WIB. Sebanyak 156 penumpang menjadi korban meninggal.

    Slamet sendiri terluka parah. Tulang pinggulnya retak dan harus dirawat selama berbulan-bulan di rumah sakit. Hingga saat ini, kaki kanannya masih terasa sakit jika digerakkan. "Ini masih sakit sampai sekarang."

    Slamet juga harus menanggung hukuman 5 tahun penjara. Tahun 1990, ia bebas dan kembali bekerja di perkeretaapian, ditugaskan di Depo Tanah Abang. Hingga akhirnya pada 1996, PT Kereta Api memecatnya tanpa alasan yang jelas. Slamet pun memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Purworejo, Jawa Tengah. Ia kini berjualan rokok eceran di depan Terminal Kutoarjo.

    Slamet kaget mendengar kabar kecelakaan kereta di jalur yang dulu ia biasa lalui. Apalagi, masinis kereta nahas kali ini, Darman Prasetyo, 25 tahun, juga berasal dari Purworejo. "Kok terjadi di tempat itu lagi."

    Toh, Slamet masih yakin dengan akal sehatnya. Ia tak percaya jika jalur kereta di Bintaro dikatakan angker. Menurut dia, kecelakaan terjadi karena kelalaian. Dalam peristiwa kali ini, kata dia, harus dicermati apakah palang pintu perlintasan kereta sudah tertutup. "Atau truk itu yang menerobos."

    Anang Zakaria

    Berita terkait
    Tabrakan Kereta Bintaro, 128 Rute ke Serpong Kacau
    Kecelakaan Kereta di Bintaro, Ini Korbannya
    Efek Tabrakan Bintaro, Penumpang KRL Terlantar
    Susi Selamat Karena Lompat dari Kereta Bintaro
    Kecelakaan Kereta di Bintaro, Ini Masinisnya

     



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.