Kesaksian Wartawan Tempo di Kereta Bintaro

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas berusaha memadamkan kebakaran di lokasi kecelakaan KA Ulujami Bintaro, Jakarta (9/12). TEMPO/Muhammad Nafi

    Petugas berusaha memadamkan kebakaran di lokasi kecelakaan KA Ulujami Bintaro, Jakarta (9/12). TEMPO/Muhammad Nafi

    TEMPO.CO, Jakarta - Wartawan Tempo, Muchamad Nafi, berada di kereta Commuter Line yang menabrak truk tangki di Bintaro, Jakarta Selatan, Senin lalu. Berikut ini kisahnya.

    Jeduarr!! Sebuah benturan keras menghentikan laju kereta. Beberapa penumpang yang berdiri terjengkang. Dalam kekagetan, kami yang di gerbong keempat kereta Commmuter Line rute Serpong-Tanah Abang hanya menduga-duga bahwa aliran listrik moda transportasi ini bermasalah. Namun, jeda itu tak lama. Tiba-tiba ada yang menjerit, “Ada kebakaran!”
     
    Seketika, rasa kaget berubah jadi cemas. Penumpang berhamburan menuju pintu. Malang, lawang-lawang tersebut tak bergeser satu senti pun. Usaha mendobrak tak berhasil. Seorang petugas yang mengungkit bagian bawah juga tak membuat pintu bergeser. Suara histeris menyeruak. Saya dan beberapa penumpang mencari palu atau kampak untuk memecah kaca. Nihil.

    Seorang penumpang berhasil memaksa jendela terbuka. Lubang dua jengkal itu menjadi rebutan untuk keluar. Sekitar satu setengah menit, pintu baru bisa dibuka. Karena dorongan, ada penumpang yang terjatuh dan luka.

    Gumpalan asap hitam membubung dari depan kepala kereta yang roboh ke kanan. Dua-empat jepret, sisi kiri kereta saya abadikan dengan telepon genggam. Namun, saya heran, suasana "cukup" lengang, ke mana perginya penumpang di gerbong depan? Saya kembali naik kereta, meloncat ke sisi kanan. Rupanya penumpang sudah menyingkir ke arah Masjid At-Taqwa.

    Tempat ibadah di Jalan Bintaro Permai, Jakarta Selatan, ini mulai dipenuhi korban tumbukan kereta dengan tangki bahan bakar minyak itu. Semuanya perempuan. Seorang ibu merintih kepanasan. Jari tangan kirinya terkelupas. Luka bakar lebih parah menimpa kakinya. Celana hitam yang dipakai Bu Darmo itu mengerut seperti pakaian gosong oleh setrikaan. Segelas air madu kusuapkan ke mulutnya yang mengeriput. “Sabar, Bu. Sebentar lagi dokter datang,” saya berusaha menenangkannya.
       
    Satu per satu korban lain berdatangan. Ada yang dibawa ke gedung sekolah dasar di seberang masjid. Saya turun ke jalan, membantu menggotong korban bersama warga di sana. Seorang ibu yang telah banyak beruban terbakar separuh badan. Tak ada daging di tangan kanannya. Napasnya tersengal-sengal. Satu menit dibaringkan di rumah Tuhan, jiwanya melayang. Kisah lainnya bisa dibaca di Tragedi Bintaro.

    MUCHAMAD NAFI

    Lihat juga:
    Kisah Penjaga Palang Kereta 1: Mual Lihat Mayat  
    Kisah Penjaga Palang Kereta 2: Meriang Masuk Angin 
    Kisah Penjaga Palang Kereta 3: Pantangan Bertugas 
    Kisah Penjaga Palang Kereta 4: Akrab Tragedi


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.