Dikuntit Media, Jokowi: Asal Tidak Ikut Saya Mandi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kalkulasi politik. Menurut Jokowi, kebijakan ini nantinya pasti akan ada yang mempolitisasi. Hal ini juga harus diperhitungkan masak-masak. TEMPO/Seto Wardhana

    Kalkulasi politik. Menurut Jokowi, kebijakan ini nantinya pasti akan ada yang mempolitisasi. Hal ini juga harus diperhitungkan masak-masak. TEMPO/Seto Wardhana

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menyatakan belum mengetahui mengenai dirinya masuk ke daftar The Leading Global Thinkers of 2013. Jokowi mengatakan, popularitasnya selama ini memang tidak lepas dari sorotan media yang setiap hari mengikutinya.

    "Setiap minggu itu ada yang minta wawancara dari media asing," kata Jokowi. Selain sekadar wawancara, pewarta asing tersebut memang kerap diajak Jokowi untuk turut blusukan melihat kondisi langsung masyarakat Ibu Kota. "Ke pasar, ke kampung, ke waduk, sampai ke bantaran sungai saya ajak," kata Jokowi.

    Menurut Jokowi, tidak ada sikap khusus yang dia lakukan agar menjadi lebih populer. "Baju saja ndak ganti-ganti, wajah tetep gini-gini aja, kan," kata Jokowi.

    Sejauh ini, Jokowi mengatakan, dirinya tidak kewalahan menghadapi media yang setiap hari mengikuti seluruh kegiatannya. "Lha, wong cuma nanya, saya layani," kata Jokowi. Jokowi tidak ambil pusing dengan media yang mengikutinya tersebut. "Mau lihat rapat, saya buka. Silakan. Asal jangan ngikutin saya mandi," kata Jokowi.


    ISMI DAMAYANTI

    Topik Terhangat
    Kecelakaan Kereta Bintaro |
    SEA Games Myanmar | Pelonco Maut ITN | Dinasti Atut |

    Berita Terpopuler
    Lahir di Tanggal Cantik, Dr. Soetomo Bagi Hadiah
    Mengunyah Makanan Lebih Lama Bikin Langsing
    Mulberry Absen dalam Pekan Mode London 2014 
    Belajar Hal Baru Bantu Jaga Kesehatan Otak Lansia


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.