Pemilik Vila Bayar Massa Penolak Pembongkaran?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga menyaksikan proses pembongkaran villa liar di Desa Megamendung, Puncak, Bogor, (12/12). TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Warga menyaksikan proses pembongkaran villa liar di Desa Megamendung, Puncak, Bogor, (12/12). TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Bogor - Sejumlah pemilik vila di kawasan Megamendung, Kabupaten Bogor, diduga membiayai kerusuhan yang dilakukan pekerja penjaga vila saat pembongkaran dilakukan pada Kamis, 12 Desember 2013. 

    "Per vila disebut dijaga dengan biaya Rp 3 juta hingga Rp 10 juta," kata seorang anggota Satpol PP Bogor di lokasi pembongkaran vila Megamendung, Kamis, 12 Desember 2013. Dalam pembongkaran tersebut, para penjaga vila sempat menyerang Satpol PP yang melakukan eksekusi pembongkaran vila.

    Dari kerusuhan yang terjadi, telah diamankan hingga lima pelaku kerusuhan yang diduga merupakan provokator keributan. "Saat kami pancing, mereka mengaku dibayar hingga Rp 200 ribu untuk ikut kerusuhan dan Rp 100 ribu untuk membuat bom molotov," katanya.

    Para pelaku kerusuhan pun disebut bukan merupakan warga setempat, melainkan warga pendatang. "Kebanyakan dari Cipayung kalau penjaga vila di sini," kata Hasan, warga setempat. Hasan mengatakan, tidak banyak penjaga yang ia kenal karena para penjaga tersebut kebanyakan tinggal di vila-vila besar dengan lokasi vila yang relatif jauh dari permukiman warga.

    Seorang pemilik vila yang kena gusur Satpol PP, Lusi, mengaku tidak mendapat informasi mengenai penjaga vila miliknya. "Saya tidak tahu nama, pokoknya ngaku penduduk sini, saya percaya," kata wanita asal Bangka Belitung tersebut.

    Pemilik bangunan yang turut kena gusur, Zainal Abidin, mengatakan dirinya telah mendapat pemberitahuan pembongkaran. "Tapi saya belum sempat karena tinggal di Madura," kata Zainal.

    Zainal mengatakan, bangunan yang dimilikinya bukan merupakan vila, melainkan rumah yang dibangunnya untuk ditempati bersama keluarga. "Saya beli tanah di sini dari warga, tapi memang dikelabui dengan surat yang ternyata tidak resmi," kata Zainal.

    Pada hari ini, Satpol PP berencana menggusur hingga 54 bangunan ilegal di atas tanah milik negara tersebut. Namun, hingga pukul 19.00 WIB, penggusuran masih menyisakan tiga vila yang akan dilanjutkan esok.

    ISMI DAMAYANTI

    Baca juga:
    Polisi Dalami 2 Sebab Truk Berhenti di Rel Bintaro
    Jenazah Masinis Kecelakaan Bintaro Dimakamkan
    Korban Bintaro Tulis Status Facebook di Kereta
    Tragedi Bintaro, Polda Ungkap Pemeriksaan Hari Ini  
    Jokowi : DKI Terlambat Bangun Terowongan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Salip Menyalip Tim Sepak Bola Putra Indonesia Versus Vietnam

    Timnas U-23 Indonesia versus Vietnam berlangsung di laga final SEA Games 2019. Terakhir sepak bola putra meraih emas di SEA Games 1991 di Filipina.