Jokowi: Apa Jakarta Cocok Jadi Kota Festival?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggelar Jakarta Night Festival untuk menyambut tahun baru. Pesta disebut akan berlangsung meriah. Namun, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo tidak tahu besar dana yang dikeluarkan pemerintah DKI.

    "Kami enggak pernah tahu anggaran anunya berapa. Tapi yang jelas banyak yang dari masyarakat dan sponsor," kata pria yang akrab disapa Jokowi itu kepada wartawan di Balai Kota, Jakarta Pusat, Selasa, 31 Desember 2013. (Baca: Jokowi Pantau Persiapan Jakarta Night Festival)

    Pemprov akan menyiapkan 12 panggung untuk pesta pergantian tahun. Panggung utama berada di Bundaran Hotel Indonesia, sisanya di Balai Kota, silang barat Monas, Bank Indonesia, Wisma Mandiri, Gedung Jaya, Jalan Sunda, EX Centre, Hotel Pullman, Jalan Pamekasan, Gedung UOB, dan Stasiun Dukuh Atas. Rencananya, Jokowi dan Ahok akan tampil bersama Rhoma Irama. (Baca: Jokowi Bujuk Rhoma untuk Berduet )

    Jokowi mengatakan acara seperti ini akan terus digelar pada tahun-tahun selanjutnya. Alasannya, warga Ibu Kota membutuhkan suatu hiburan. Jadi, warga tidak hanya memikirkan urusan sehari-hari. "Masalah kok yang diurus itu-itu saja. Harus seimbang, yang religius ada, masalah budaya ada, jadi keseimbangan itu perlu," ujarnya.

    Jokowi mengatakan, dengan begitu, warga yang tinggal di kota itu akan lebih berisi. "Berisi, tidak hanya kosong masalah ekonomi, ekonomi, dan ekonomi." (Baca: Jokowi Larang Konvoi Tahun Baru )

    Jokowi menyatakan, kota seperti Jakarta memerlukan identitas dan karakter. "Itu yang baru mulai kami bangun. Sebetulnya Jakarta sebagai sebuah kota festival ini cocok atau enggak," ujar mantan Wali Kota Surakarta itu.

    SINGGIH SOARES


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.