Tahun Baruan ala Orang Betawi Sejak 2 Abad Silam

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung mengamati berbagai macam kembang api yang dijual oleh pedagang musiman di bahu jalan sekitar Pasar Gembrong, Jakarta Timur, Sabtu (28/12). Warga Jakarta mulai ramai membeli terompet dan kembang api sebagai persiapan untuk menyambut datangnya tahun baru 2014. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Pengunjung mengamati berbagai macam kembang api yang dijual oleh pedagang musiman di bahu jalan sekitar Pasar Gembrong, Jakarta Timur, Sabtu (28/12). Warga Jakarta mulai ramai membeli terompet dan kembang api sebagai persiapan untuk menyambut datangnya tahun baru 2014. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO , Jakarta--Pemerintah DKI Jakarta selalu membuat acara meriah pada setiap malam pergantian tahun. Warga Jakarta pun dimanjakan dengan aneka acara dan pertunjukan yang tersebar di banyak lokasi seperti Monas, Bunderan Hotel Indonesia, Ancol, Taman Mini Indonesia Indah, atau Kota Tua Jakarta. Tahukah anda bahwa keriaan perayaan tahun baru di ibu kota ini sudah dimulai sejak 2 abad silam?

    Budayawan dan ahli sejarah Betawi dari Lembaga Kebudayaan Betawi, Yahya Andi Saputra menjelaskan, perayaan tahun baru pada mulanya tidak dikenal warga asli Jakarta, yakni orang Betawi. "Karena sistem penanggalannya mengikuti sistem kalendar Jawa atau Arab." Namun sejak Belanda masuk ke Indonesia dan menguasai wilayah Batavia atau yang kini dikenal sebagai Jakarta, maka acara keramaian pada malam pergantian tahun pun mulai dikenal warga pribumi.

    Alkisah pada awal tahun 1800-an, kata Yahya, Gubernur Jenderal Hindia Belanda mengadakan acara khusus menyambut tahun baru. Sebelum-sebelumnya, tidak ada acara semeriah itu di Batavia. Acara berlangsung sejak sore hingga tengah malam. Dalam acara itu, seluruh warga keturunan Belanda yang ada di Batavia meramaikan pusat kota, yang kini jadi Kota Tua Jakarta.

    Penduduk lokal alias warga pribumi, menurut Yahya, yang tidak biasa mendengar musik keras-keras, dan tari-tarian ala Eropa pun berduyun-duyun mendatangi lokasi pesta dan menonton acara itu. "Orang lokal boro-boro ikutan, mereka hanya menonton tapi senang."

    Acara serupa kemudian dilakukan setiap tahun, terutama pada saat malam pergantian tahun. "Dari situlah orang Betawi mengenal perayaan tahun baru, padahal sebelumnya tidak ada istilah malam tahun baru." Adapun pergantian tahun bagi orang Betawi adalah pada setiap tanggal 1 Syuro, sama seperti orang Jawa.

    Kebiasaan orang Belanda yang berpesta pada malam tahun baru kemudian diikuti dan menjadi kebiasaan hingga saat ini. "Memang ibaratnya pada malam tahun baru semua orang ke luar rumah untuk mencari hiburan." ujar Yahya.

    Pada malam tahun baru di zaman penjajahan Belanda itu pula, kemudian timbul kebiasaan para pemain orkes tanjidor Betawi ngamen berkeliling ke tempat-tempat keramaian. "Jadinya ya setiap tahun baru pasti ramai dan disambut dengan meriah oleh warga Jakarta."

    PRAGA UTAMA


    Baca juga:

    Tahun Baru, Jokowi-Ahok Pakai Seragam Kotak-Kotak

    Balok Beton di Tanggul KBB Yang Ambruk Dievakuasi

    Tahun Baru, Taman Mini Targetkan 50 Juta Orang

    Padat Pengunjung, Pengelola Ancol Buka Loket Baru


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.