Ketika Pedagang Terompet Mendulang Rezeki

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pedagang terompet plastik dan kembang api menjajakan dagangannya di bahu jalan sekitar Pasar Gembrong, Jakarta Timur, Sabtu (28/12). TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Pedagang terompet plastik dan kembang api menjajakan dagangannya di bahu jalan sekitar Pasar Gembrong, Jakarta Timur, Sabtu (28/12). TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO , Jakarta-Terompet, bagi sebagian orang merupakan pernak-pernik wajib untuk memeriahkan perayaan Tahun Baru. Pedagang terompet adalah salah satu orang yang rutin mendulang rezeki saat pergantian tahun tiba.

    Andri Maulana, 22 tahun,mengatakan omset hasil penjualan terompet saat perayaan dapat meningkat tiga kali lipat. Omset yang dikantonginya malam Tahun Baru lalu mencapai Rp 900 ribu. Malam ini, 31 Desember 2013, ia berujar telah mendapat sekitar Rp 500 ribu.

    Nilai itu, kata Andri, kemungkinan masih dapat bertambah lagi lantaran pembeli biasanya bertambah banyak saat mendekati menit-menit pergantian tahun. "Omset malam ini lumayan sekali," kata Andri saat ditemui Tempo di depan Kantor Wali Kota Jakarta Selatan, Selasa, 31 Desember 2013.

    Pemuda yang biasa berjualan di depan Apartemen Darmawangsa Jakarta Selatan ini menuturkan, ia tak khawatir dengan kehadiran terompet plastik yang belakangan banyak beredar. Menurutnya, penggemar terompet akan terus ada karena bentuk terompet kertas terus berubah sepanjang waktu. "Bentuk terompet plastik kan monoton, kalau pedagang terompet kertas berkreasi terus," kata dia.

    Warga Jalan Bangka Barat 4, Bangka, Mampang Prapatan ini bersama dengan rekan-rekannya sekitar empat bulan sekali menciptakan bentuk-bentuk baru agar barang dagangannya tak membosankan. Andri yang mewarisi keahlian ayahnya membuat terompet kertas tinggal di lingkungan pedagang terompet sejak kecil.

    Untuk itu, Andri yakin peminat terompet kertas akan tetap ada. Terompet Andri dijual paling murah seharga Rp 7.000 untuk bentuk tradisional. Terompet bentuk keong dan bariton dijual masing-masing senilai Rp 10 ribu dan Rp 15 ribu. Terompet burung yang dibanderol Rp 20 ribu merupakan terompet paling mahal yang dijual Andri.

    Tak jauh dari tempat Andri berjualan, Suwarso, 43 tahun, juga sedang mengadu peruntungannya. Ia juga meyakini penggemar terompet kertas akan terus ada. "Bunyi terompet kertas itu khas sekali," ia berujar.

    Malam ini, Suwarso mengatakan telah mengantongi uang sekitar Rp 500 ribu. Tahun lalu, kata dia, ia membawa pulang uang senilai Rp 1 juta dari hasil berjualan di Monumen Nasional.

    Warga Pekayon, Bekasi ini tinggal di rumah kerabatnya di daerah Kebayoran Lama hingga perayaan Tahun Baru usai. Suwarso biasanya menciptakan dua bentuk baru dalam setahun sebagai strategi agar tak tergusur terompet plastik. "Saya yakin terompet kertas dapat bertahan," ujar Suwarso.

    LINDA HAIRANI

    Baca juga:
    Tahun Baru, Jokowi-Ahok Pakai Seragam Kotak-Kotak

    Balok Beton di Tanggul KBB Yang Ambruk Dievakuasi

    Tahun Baru, Taman Mini Targetkan 50 Juta Orang

    Padat Pengunjung, Pengelola Ancol Buka Loket Baru


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.