Diduga Ada Tiga Teroris Ciputat, Ternyata Lima Tewas

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pasukan Densus 88 mempersiapkan senjatanya saat mengepung tersangka teroris di Jl Hasan Hasan Rt05/ Rw07, Kampung Sawah Lama, Ciputat, Tangerang Selatan, (31/12). Tempo/Aditia Noviansyah

    Pasukan Densus 88 mempersiapkan senjatanya saat mengepung tersangka teroris di Jl Hasan Hasan Rt05/ Rw07, Kampung Sawah Lama, Ciputat, Tangerang Selatan, (31/12). Tempo/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Tangerang Selatan - Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komisaris Jenderal Polisi Suhardi Alius mengatakan, total enam terduga teroris tewas dalam penggerebekan di sebuah rumah kontrakan di Jalan Ki Hajar Dewantara, Gang Hasan RT 04/07, Kelurahan Kampung Sawah, Ciputat, Tangerang Selatan, sejak kemarin, Selasa, 31 Desember 2013.

    Suhardi mengakui, sebelumnya kepolisian menduga di dalam rumah yang jadi target operasi hanya ada tiga terduga teroris. Namun, setelah Densus 88 Antiteror masuk ke rumah yang menjadi target operasi, ternyata ada lima orang yang tewas.

    Terkait dengan identitas lima terduga teroris yang tewas di dalam rumah, Suhardi tak mau berkomentar banyak. Dia mengatakan, nanti akan ada penjelasan lebih lanjut dari Divisi Humas Polri.

    Lamanya penggerebekan karena para teroris tersebut menyimpan enam rangkaian bom aktif. (Lihat Galeri foto: Pasukan Densus Gerebek Terduga Teroris Ciputat)

    Saat ini tim dari Detasemen Khusus 88 Antiteror masih berada di lokasi. Selain itu, tiga unit mobil ambulans juga disiagakan.

    KHAIRUL ANAM


    Berita lain:
    6 Teroris Ciputat Akhirnya Dilumpuhkan
    Begini Kronologi Penggerebekan Teroris Ciputat
    Teroris Ciputat dan Cerita Sebelum Penggerebekan
    Teroris Ciputat Masih Bertahan setelah 10 Jam
    Sutarman Tak Berkomentar Soal Teroris Ciputat

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.