Pemilik Warung Nasi Kaget Harga Gas Naik  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penjual warung nasi atau warung tegal (warteg) melayani pembeli di Kawasan Palmerah, Jakarta, Selasa (8/10). ANTARA/Dhoni Setiawan

    Penjual warung nasi atau warung tegal (warteg) melayani pembeli di Kawasan Palmerah, Jakarta, Selasa (8/10). ANTARA/Dhoni Setiawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Marfuah, 56 tahun, terkejut saat mengetahui harga gas elpiji 12 kilogram, yang biasa dia pakai, naik dari semula Rp 90 ribu per tabung menjadi Rp 150 ribu. "Ini naiknya baru tadi siang," kata pemilik warung nasi Marisa di dekat kantor Kepolisian Sektor Palmerah, Jakarta Barat, kepada Tempo, Kamis, 2 Januari 2014.

    Kekagetan Marfuah itu karena sehari sebelumnya harga gas masih normal. "Kemarin saya beli masih Rp 90 ribu, pas tadi ke pasar dikasih tahu sudah naik," ujarnya. Dia mengaku beruntung membeli gas sehari sebelum kenaikan. "Kemarin pas beli juga memang sudah dikasih tahu bakal naik, tapi enggak nyangka hari ini naiknya."

    PT Pertamina, produsen dan penyalur gas elpiji, mulai awal 2014 ini memang menetapkan harga baru gas ukuran tabung 12 kilogram. Mulai 1 Januari 2014, harga gas elpiji tabung biru ini naik dari semula Rp 78 ribu jadi Rp 122 ribu. Namun harga yang ditetapkan Pertamina itu pada kenyataannya lebih besar di tingkat distributor dan pengecer.

    Marfuah menjelaskan, biasanya untuk keperluan warung nasinya, gas elpiji 12 kilogram bisa habis dalam waktu dua minggu. "Rata-rata segitu, tapi kalau masak banyak bisa lebih cepat, 10 hari juga habis," katanya. Dia menyatakan kenaikan harga gas yang cukup besar ini cukup memberatkan. "Naiknya tinggi sekali soalnya."

    Meski hari ini harga gas sudah naik, Marfuah belum berencana menaikkan harga makanan yang dijualnya. "Paling nanti kalau saya sudah beli yang baru," dia mengatakan. Namun, kata dia, kenaikan harga makanan pun tidak akan terlalu signifikan. Pasalnya, gas tidak menjadi komponen paling besar dalam biaya produksi makanan di warungnya. "Kalau yang naik bahan makanan, seperti sayur, daging, itu baru terasa naiknya, kalau gas kan kepakainya lama."

    Marfuah menyatakan tidak menutup kemungkinan harga makanan akan naik setelah kenaikan harga gas. "Mungkin naik Rp 500 sampai Rp 1.000," ujarnya. Dia enggan menaikkan harga makanan lebih besar karena takut kehilangan pelanggan. "Kasihan juga yang beli kalau naiknya terlalu tinggi."

    Adapun Astri, 27 tahun, penjual ayam goreng dan nasi goreng di kawasan Slipi, mengaku tak terlalu terpengaruh kenaikan harga elpiji 12 kilogram. "Karena untuk jualan saya biasa pakai yang 3 kilogram," katanya. Meski demikian, dia mengatakan harga gas ukuran 3 kilogram alias gas melon sejak akhir Desember lalu sudah naik. "Biasa saya beli Rp 17 ribu, tapi sekarang jadi Rp 18 ribu." 

    Astri juga menyatakan belum berencana menaikkan harga makanan yang dijualnya. "Naiknya belum terasa memberatkan," tuturnya. Namun dia mengaku kenaikan harga elpiji 12 kilogram terlalu besar. "Saya di rumah pakai yang 12 kilogram, kalau naiknya sampai Rp 50 ribu, kemahalan," tuturnya.

    PRAGA UTAMA

    Berita Terpopuler
    Teroris Digerebek, Densus Sita Senjata di Bogor  
    Tangerang Selatan Favorit Persembunyian Teroris?
    Instruksi Jokowi PNS Naik Angkutan Umum Diragukan  
    Mulai 6 Januari, Terminal Lebak Bulus Ditutup
    Teroris Ciputat Disebut Punya Usaha Optik  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.