Tujuh Halte Transjakarta Akan Dibongkar  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jalur Busway terlihat sepi di depan Shelter Transjakarta Monumen Nasional, Jakarta, (5/9). Operasional Bus Transjakarta koridor 1 tujuan Blok M-Kota ditutup sementara karena adanya aksi unjuk rasa di kawasan Bundaran HI. Tempo/Dian Triyuli Handoko

    Jalur Busway terlihat sepi di depan Shelter Transjakarta Monumen Nasional, Jakarta, (5/9). Operasional Bus Transjakarta koridor 1 tujuan Blok M-Kota ditutup sementara karena adanya aksi unjuk rasa di kawasan Bundaran HI. Tempo/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Mass Rapid Transit Jakarta akan membongkar tujuh halte Transjakarta di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman hingga Jalan M.H. Thamrin. Ketujuh halte di Koridor I, Blok M-Kota, ini dibongkar untuk pembangunan kereta MRT jalur bawah tanah.

    Ketujuhnya adalah halte Bundaran Senayan, halte Polda, halte Karet, halte Setiabudi, halte Tosari, halte Bundaran Hotel Indonesia, dan halte Sarinah. "Semuanya akan dibongkar dan diganti," kata Direktur Utama PT MRT Dono Boestami di Hotel Pulman, Jakarta Pusat, pada Kamis, 2 Januari 2014.

    Pertama, halte Bundaran Senayan dan halte Polda, posisinya akan digeser ke arah selatan dengan ukuran serupa. Lokasi bekas pembongkaran akan dibangun stasiun MRT.

    Kemudian halte Karet dan halte Setiabudi akan dibongkar total. Sebagai gantinya akan dibangun halte baru yang luasnya sama dengan kedua halte tersebut jika digabung. Letaknya di tengah-tengah Karet-Setiabudi.

    Selanjutnya halte Tosari dan halte Sarinah akan diperpanjang enam pintu. Sebab, halte Bundaran Hotel Indonesia akan dihilangkan. "Jadi bebannya dibagi ke Sarinah dan Tosari," ujar Dono.

    Kepala Dinas Perhubungan Udar Pristono menjamin pembangunan halte ini tidak akan mengganggu trayek Transjakarta. "Dibongkarnya juga setelah halte baru berdiri," ujarnya. Pembangunan dan perobohan halte dijadwalkan rampung Mei.

    SYAILENDRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Raoul Follereau Mengusung Kepedulian Terhadap Penderita Kusta

    Raoul Follereau mengusulkan kepedulian terhadap kusta. Perjuangannya itu akhirnya diakui pada 25 Januari 1954 dan ditetapkan sebagai Hari Kusta.