Lebak Bulus 'Kehilangan' Rp 2 Juta Per Hari  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Spanduk bertuliskan penolakan warga atas ditutupnya Terminal Antar Kota Antar Propinsi (AKAP) Lebak Bulus, Jakarta Selatan, (06/01). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana mulai pukul 00.00 tengah malam nanti menutup Terminal Lebak Bulus. Tempo/Dian Triyuli handoko

    Spanduk bertuliskan penolakan warga atas ditutupnya Terminal Antar Kota Antar Propinsi (AKAP) Lebak Bulus, Jakarta Selatan, (06/01). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana mulai pukul 00.00 tengah malam nanti menutup Terminal Lebak Bulus. Tempo/Dian Triyuli handoko

    TEMPO.CO, Jakarta - Sejak rencana penutupan Terminal Lebak Bulus, bus-bus antarkota dan antarprovinsi sudah tak lagi membayar retribusi masuk terminal. "Dari tanggal 6 sudah tidak bayar, bus sedang Rp 2.500 per bus, bus besar Rp 5.000," ujar Kepala Terminal Lebak Bulus Adjmain kepada Tempo, Rabu, 8 Januari 2014.

    Ia mengatakan, akibat itu, pemasukan dari retribusi hilang rata-rata Rp 2 juta per harinya. Menurut dia, perusahaan otobus sudah menganggap Terminal Lebak Bulus tak beroperasi untuk bus AKAP sejak dua hari lalu.

    Pada Senin malam, seharusnya Terminal Lebak Bulus berhenti beroperasi. Namun warga terminal yang terdiri atas karyawan dan pedagang berunjuk rasa. Pemerintah akhirnya menunda rencana penutupan itu.

    Pihak terminal mengaku belum tahu rencana kapan penutupan akan kembali dilakukan. "Saya belum bisa komentar, belum ada kabar dari atas," ujarnya. Hingga hari ini, Terminal Lebak Bulus masih beroperasi seperti biasa. Deretan bus AKAP masih mangkal di Lebak Bulus. Penumpang pun masih ramai memenuhi loket pembelian tiket yang kembali buka setelah sempat tutup dua hari lalu.

    Hal tersebut ditanggapi oleh Ketua Koperasi Karyawan Bus AKAP, Sumardi. Ia menyatakan, bila Terminal Lebak Bulus tak ditutup hari ini, pembatalan bersifat permanen. "Pak Jokowi bilang akan menemui hari ini. Bila tak ada kabar, kami menganggapnya penutupan (terminal) batal," ujarnya.

    Terminal Lebak Bulus akan ditutup untuk dijadikan depo mass rapid transit. Pembangunan depo akan dilakukan di sektor pangkalan bus AKAP, sehingga perlu disterilkan jauh-jauh hari.

    Pengamat transportasi Azas Tigor Nainggolan menganggap hal itu tak perlu dilakukan. "Jangan seperti jeruk makan jeruk. Sesama angkutan umum tak boleh mematikan angkutan umum lain," ujarnya. Ia menyatakan ada solusi lebih baik ketimbang menggusur lahan bus AKAP untuk pembangunan depo MRT. "Bus AKAP bisa menggunakan terminal dalam kota, seperti di Rawamangun, jadi pembangunan MRT jalan terus, layanan bus tak berhenti," ujarnya.

    Ia mengatakan akan mengadovkasi permintaaan warga terminal kepada Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. Siang tadi, pihaknya menggelar diskusi bersama sejumlah elemen pengguna terminal. Hasilnya akan disampaikan lewat surat rekomendasi yang menegaskan warga terminal tak ingin digusur jauh dari Lebak Bulus. "Kalau bisa digeser, kenapa harua digusur," ujarnya.

    M. ANDI PERDANA | WITA ADELINA


    Terkait:

    Jokowi Tegaskan Terminal Lebak Bulus Harus Ditutup

    Stadion Lebak Bulus Dibongkar, Gantinya 2 Stadion

    Soal Lebak Bulus, DKI Dianggap Kurang Koordinasi

    Stadion Lebak Bulus Dibongkar, Gantinya 2 Stadion


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.