Kajian Lalu Lintas Bandara Halim Versi Kepolisian  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana Bandara Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, (21/11). Pemerintah akan kembali mengoptimalkan Bandara Halim Perdanakusuma sebagai bandara komersial pada awal tahun 2014 untuk mengurangi kepadatan di Bandara Soekarno-Hatta. TEMPO/Imam Sukamto

    Suasana Bandara Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, (21/11). Pemerintah akan kembali mengoptimalkan Bandara Halim Perdanakusuma sebagai bandara komersial pada awal tahun 2014 untuk mengurangi kepadatan di Bandara Soekarno-Hatta. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Bandar Udara Halim Perdanakusuma telah resmi sebagai bandara penerbangan komersial berjadwal pada 10 Januari lalu. Kepala Satuan Lalu Lintas Wilayah Jakarta Timur, Ajun Komisaris Besar Supoyo, mengaku telah membuat kajian lalu lintas di sekitar Bandar Udara Halim Perdanakusuma.

    Kajian lalu lintas itu untuk meminimalisasi kemacetan dan kepadatan kendaraan yang menuju dan keluar Bandara Halim. “Kami punya kajian sendiri dan telah disampaikan kepada pihak Angkasa Pura,” kata Supoyo kepada Tempo, Sabtu, 11 Januari 2013.

    Supoyo menjelaskan, kajian lalu lintas meliputi beberapa titik akses menuju Bandara Halim. Pertama, pemasangan traffic light di gerbang masuk-keluar Bandara Halim. Alasannya, pintu masuk-keluar Bandara Halim terletak di sudut antara Jalan Halim Perdanakusuma dan Jalan Komodor Halim.

    “Pemasangan traffic light harus segera dilakukan agar tidak terjadi tabrakan antara kendaraan yang mau berbelok ke Jalan Komodor dengan kendaraan yang keluar dari bandara,” ujarnya.

    Kedua, memperbanyak rambu-rambu petunjuk jalan dari arah mana ke mana. “Tidak ada petunjuk jalan, jadi masyarakat yang keluar dari bandara bingung mau lewat mana. Ini menyebabkan penumpukan kemarin di pintu keluar,” ujarnya. Padahal, kata Supoyo, masyarakat yang hendak ke kawasan Cililitan, Bogor, atau Taman Mini, bisa lewat Jalan Komodor Halim.

    “Begitu sebaliknya, yang dari Bogor atau tol Jagorawi bisa keluar di pintu tol TMII, dan lewat Kampung Makasar tembus Jalan Komodor Halim,” ujarnya. “Tidak mesti harus lewat Jalan Halim Perdanakusuma, banyak jalan alternatif, tapi tidak dilengkapi rambu.” 

    Ketiga, Supoyo melanjutkan, untuk menunjang lalu lintas kendaraan dari Jalan Komodor Halim, harus ada pelebaran jalan. “Jalannya agak dilebarin karena saat ini hanya untuk dua jalur yang berlawanan,” ujarnya. Keempat, melebarkan putaran balik U di Jalan Halim Perdanakusuma atau tepatnya di depan gedung BKKBN. “Jadi kendaraan dari Jalan Komodor bisa langsung berputar sekali di sini. Karena tidak bisa langsung masuk ke bandara dari Jalan Komodor,” kata Supoyo.

    Kelima, memperlebar bundaran Halim di dekat pintu masuk-keluar Bandara Halim. Keenam, Supoyo juga meminta pelebaran belokan dari keluar tol Cikampek atau arteri Halim berbelok ke Jalan Halim Perdanakusuma. “Itu kan selalu macet kalau pagi dan sore hari, agar belokan itu bisa diperlebar untuk dua mobil,” ujarnya. “Kalau mau bikin akses keluar tol Cikampek langsung Jalan Halim Perdanakusuma itu lebih bagus dan dapat mengurangi kemacetan yang selalu terjadi di jam-jam tertentu.”

    Supoyo berharap, pihak Angkasa Pura II dapat segera merealisasikan kajian lalu lintas ini agar kemacetan dapat terminimalisasi sesegera mungkin. “Sekarang kan baru satu maskapai, nanti kalau sudah banyak, pasti akan timbul kemacetan. Sejauh ini, lalu lintas masih lancar,” ujarnya.

    AFRILIA SURYANIS

    Berita Lain:
    Hercules Emoh Dirawat di RS Polri
    Revolver Silver, Senjata Pembunuh Briptu Nurul
    Polisi Ringkus Tiga Perampok Bersaudara


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.