BMKG: Perubahan Tata Lingkungan Sebabkan Banjir  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengendara bermotor menggunakan jasa gerobak untuk melintasi banjir dikawasan Ciledug Indah, Tangerang, (13/1). Tempo/Aditia Noviansyah

    Pengendara bermotor menggunakan jasa gerobak untuk melintasi banjir dikawasan Ciledug Indah, Tangerang, (13/1). Tempo/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisikan menilai perubahan tata lingkungan sebagai penyebab banjir di Jakarta. Menurut Kepala Meteorologi Publik BMKG, Mulyono Prabowo, perubahan itu membuat daya serap tanah mengalami penurunan sehingga mengakibatkan banjir. “Daya serap berkurang sedangkan tanah yang ada sudah jenuh,” katanya saat dihubungi, Senin, 13 Januari 2014.

    Mulyono mengatakan, perubahan tata lingkungan itu sangat terasa ketika hujan deras yang mengguyur Ibu Kota dan sekitarnya dua hari terakhir. Menurutnya, banjir kali ini terjadi tidak dengan curah hujan yang sama ketika banjir besar Januari 2013 silam.

    Berdasarkan laporan BMKG, kata dia, curah hujan di Jabodetabek dua hari terkahir berkisar antara 40 mililiter hingga 110 mililiter per hari. Curah hujan itu jauh lebih rendah ketimbang musim hujan 2013, di mana curah hujan rata-rata di atas 110 militer per hari. “Tahun lalu itu turun secara merata, bahkan di sejumlah tempat ada yang mencapai 140 mililiter per hari,” kata dia.

    Meski curah hujan kali ini lebih rendah, banjir tetap muncul karena curah hujan tinggi terjadi dalam waktu dua hari berturut-turut. Akibatnya, daya serap tanah mencapai titik jenuh namun hujan masih terus terjadi. “Jadi air menggenang dan tidak mampu lagi diserap,” ujarnya.

    Adapun upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk merevitalisasi kali dan waduk di Jakarta juga terkesan belum membawa hasil. Hal itu tak lepas dari perubahan tata lingkungan yang terjadi, terutama akibat pembangunan yang massif di Ibu Kota selama tiga tahun terakhir. “Memang banjir di sejumlah wilayah bisa surut dengan cepat, tapi perubahan tata lingkungan itu sangat terasa,” katanya.

    Untuk rekor tertinggi, BMKG mencatat curah hujan paling tinggi terjadi pada 2010 lalu. Saat itu, curah hujan di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan, mencapai 340 mililiter per hari. Namun banjir tidak sampai terjadi karena konsentrasi awan Cuma berada di kawasan tersebut. “Jadi tidak sampai banjir karena wilayah lainnya normal,” kata dia.


    DIMAS SIREGAR

    Berita Terpopuler
    Titik-titik Banjir di Jakarta Pagi Ini
    Banjir, Jagorawi Macet Total!  
    Air Kiriman dari Bogor Tiba di Manggarai Pukul 2
    Pintu Air Karet Sudah Siaga I


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.