Cegah Banjir, BNPB Sebar Hujan ke Laut  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Navigator mengoperasikan radar pesawat Hercules dalam operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC) bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta, Senin (28/1). TEMPO/Seto Wardhana

    Navigator mengoperasikan radar pesawat Hercules dalam operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC) bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta, Senin (28/1). TEMPO/Seto Wardhana

    TEMPO.CO, Jakarta - Hujan akhir pekan lalu membuat sejumlah kawasan di DKI Jakarta tergenang. Karena itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana melakukan modifikasi atau rekayasa cuaca DKI Jakarta, Selasa, 14 Januari 2014. Modifikasi ini dilakukan setelah Gubernur Joko Widodo menyetujui pemberlakuannya.

    Modifikasi cuaca ini berlangsung selama dua bulan ke depan. Kepala BNPB Syamsul Maarif mengatakan, teknologi modifikasi cuaca ini tidaklah memindahkan hujan, tapi mendistribusikannya ke laut. BNPB akan memantulkan awan, lalu membawanya ke laut dan menjatuhkan hujan di laut.

    Hujan yang mengguyur wilayah DKI Jakarta sejak Ahad, 12 Januari 2014, hingga Senin, 13 Januari 2014, membuat beberapa wilayah di Jakarta terendam banjir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengungkapkan, penyebab banjir Jakarta adalah perubahan tata lingkungan. Kepala Meteorologi Publik BMKG, Mulyono Prabowo, menganggap daya serap tanah Jakarta terhadap air sudah turun sehingga tanah mulai jenuh. (Baca: Banjir, Jagorawi Macet Total!)

    Namun dipastikan curah hujan Jabodetabek dua hari terakhir masih lebih rendah dibandingkan musim hujan tahun lalu. Tahun ini, BMKG memperkirakan curah hujan rata-rata 110 milimeter. “Tahun lalu turun secara merata, bahkan di sejumlah tempat ada yang mencapai 140 mililiter per hari,” kata Mulyono. 

    AFRILIA SURYANIS | DIMAS SIREGAR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.