Ketika Pemulung 'Bersorak' Ketemu Banjir  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemulung mencari barang yang masih dapat digunakan ditumpukan sampah yang tersangkut di Jembatan Kalibata, Jakarta Selatan, (14/01). Banjir mulai surut, sampah mulai bertumpukan. TEMPO/Dasril Roszand

    Pemulung mencari barang yang masih dapat digunakan ditumpukan sampah yang tersangkut di Jembatan Kalibata, Jakarta Selatan, (14/01). Banjir mulai surut, sampah mulai bertumpukan. TEMPO/Dasril Roszand

    TEMPO.CO, Jakarta--Banjir kali ini menjadi ladang rezeki bagi para pemulung di sejumlah lokasi musibah. Beberapa dari mereka terus-terang mengaku, banjir mendatangkan rezeki berlipat.

    Beberapa dari mereka mendapat untung dari memunguti sampah yang terbawa aliran sungai, seperti di Rawajati, Jakarta Selatan. Mereka bersorak. Pemulung memunguti banyak 'benda berharga' yang nyangkut di bawah flyover yang menghubungkan Kalibata dan Cililitan itu. Benda-benda itu antara lain lemari, kasur, hingga bangkai besi.

    "Ya nggak usah keliling, di sini aja kerja setengah hari udah cukup buat sebulan," ujar Ratno, 32 tahun, kepada Tempo, Rabu, 15 Januari 2014. Ia menyebut penghasilannya tiga kali lipat lebih banyak saat musim banjir, bisa mencapai Rp 300 ribu bila memulung barang bagus seperti lemari, kursi, dan kasur. "Tapi ya, untung-untungan," ujarnya dengan raut muka sedih, karena belum mendapat 'barang bagus' hari ini.

    Yang pasti kuantitas barang yang dipulungnya ketika musim banjir bertambah drastis. Sampah-sampah ringan seperti botol plastik, kaleng, dan bangkai besi bisa mencapai dua atau tiga karung dalam waktu kurang dari setengah hari. "Kalau hari biasa bisa seharian dan harus keliling jauh," ujarnya.

    Di tempat lain, pemulung ketiban untung dari hasil menyewakan gerobaknya. Di Pesanggrahan, Jakarta Selatan misalnya, pemulung bisa mendapat Rp 200-300 ribu per hari dari menyewakan gerobak di daerah banjir. "Biasanya dipakai buat mindahin motor, atau ngangkut barang (evakuasi) kalau air naik," ujar Tendi, 29 tahun.

    Ia jujur berharap banjir datang lagi, karena itu membuat ia sejenak pensiun dari pekerjaannya. Namun uang tetap masuk kantong, bahkan dalam jumlah berlipat. "Kalau nggak banjir, gerobaknya harus balik lagi deh ngangkut dan cari sampah, paling banyak dapat cuma Rp 100 ribu sehari, capek lagi," ujarnya.

    Di dua daerah tersebut, banjir mulai surut karena intensitas hujan mulai berkurang. Kini ketinggian air di dua daerah tersebut tak melebihi satu meter di beberapa tempat, para pengungsi pun sudah mulai kembali ke rumah. Pada akhir pekan lalu, ketinggian banjir di Rawajati mencapai dua meter, dan di Pesanggrahan mencapai 130 sentimeter.

    M. ANDI PERDANA

    Terkait:
    Ini Sebab Jakarta Utara Relatif Bebas Banjir

    Jakarta Masih Banjir, Apa Penjelasan Jokowi?

    "Hot Island" Picu Banjir Jakarta

    5 Jurus Mengantisipasi Banjir di Jakarta


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.