Kisah Pilot Hercules Penyemai Garam di Awan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pilot menerbangkan pesawat Hercules dalam operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC) bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta, Senin (28/1). Operasi TMC yang dilakukan sejak Sabtu (26/1) ini, bertujuan untuk mendistribusikan dan mengurangi curah hujan di Jakarta. TEMPO/Seto Wardhana

    Pilot menerbangkan pesawat Hercules dalam operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC) bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta, Senin (28/1). Operasi TMC yang dilakukan sejak Sabtu (26/1) ini, bertujuan untuk mendistribusikan dan mengurangi curah hujan di Jakarta. TEMPO/Seto Wardhana

    TEMPO.CO, Jakarta - Mayor Zaelani, pilot pesawat Hercules C-130 yang digunakan untuk melakukan teknologi modifikasi cuaca dengan cara menyemai garam (NaCl) di atas awan, mengaku belum menemukan kendala. Hari ini, Zaelani menerbangkan pesawat Hercules dengan dua kali penerbangan di sekitar Pelabuhan Ratu. Masing-masing penerbangan menyemai sebanyak 3,6 ton garam.

    "Sejauh ini belum menemukan kendala, dua kali penerbangan ini Alhamdulillah berjalan lancar," kata Zaelani kepada Tempo, di Landasan Udara TNI-AD Halim Perdanakusuma, Kamis, 16 Januari 2014.

    Zaelani menceritakan, dia mengemudikan pesawatnya dari Landasan Udara TNI Halim menuju arah Selatan atau Pelabuhan Ratu. Di ketinggian 10 ribu kaki itu, bahan semai yakni garam (NaCl) ditaburkan di atas awan, agar hujan lebih cepat turun dan tidak sampai ke Bogor dan Jakarta.

    "Kami menyemai di ketinggian 10 ribu kaki sebelah Selatan, karena di sana awannya cukup tebal," ujarnya. "Dan sudah diprediksi awan dari Selatan akan bergerak ke arah Utara (Jakarta)."

    Untuk mengetahui tingkat ketebalan awan, Zaenal mengatakan, pesawatnya telah dilengkapi dengan radar cuaca. "Jadi bisa dilihat di layarnya apakah warnanya merah kuning atau hijau. Kalau merah itu berarti awannya sudah matang," ujarnya.

    Menurutnya, awan yang disemai dengan garam (NaCl) yakni awan yang berwarna kuning dan hijau. "Kami menyemainya di awan yang agak tebal, itu berwarna kuning agak kehijauan," ujarnya. Saat ini, kata Zaelani, belum ditemukan awan yang sangat tebal dan matang. "Belum ada, masih awan tipis, jadi masih bisa dilintasi."

    Tahun ini, modifikasi cuaca kembali dilakukan selama dua bulan, sejak 14 Januari 2013. Modofikasi cuaca ini ditargetkan mampu mengurangi hujan di wilayah DKI Jakarta hingga 30 persen.

    Dana yang digelontorkan untuk rekayasa cuaca ini sebesar Rp 28 miliar. Sebanyak Rp 20 miliar diberikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana, sedangkan Rp 8 miliar disediakan oleh Pemprov DKI Jakarta. Namun pada tahun lalu, anggaran yang habis selama 42 hari modifikasi cuaca hanya mencapai Rp 12,8 miliar.

    AFRILIA SURYANIS

    Berita Terpopuler:
    Nikita Mirzani Blakblakan Soal Resep Bercinta
    Otto Hasibuan Mundur Sebagai Pengacara Akil 
    Djoko Kirmanto: Jokowi Jangan Ambil Wewenang Pusat
    Mata Najwa, Angel Lelga Gagap Menjawab 
    Kisah Cinta Ahok, Beda 9 Tahun dengan Istrinya  



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.