Sabtu, 17 November 2018

Mengapa Rekayasa Cuaca Tak Maksimal Halau Hujan?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas mengecek kesiapan guna melakukan rekayasa cuaca di dalam pesawat Hercules di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, (14/1). Alat ini yang digunakan Pemprov DKI Jakarta untuk mengurangi tingkat curah hujan yang tinggi dan melakukan rekayasa cuaca. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Petugas mengecek kesiapan guna melakukan rekayasa cuaca di dalam pesawat Hercules di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, (14/1). Alat ini yang digunakan Pemprov DKI Jakarta untuk mengurangi tingkat curah hujan yang tinggi dan melakukan rekayasa cuaca. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta -—Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengakui, upaya rekayasa cuaca yang dilakukan sejak 14 Januari 2014 lalu belum maksimal. Tim Rekayasa Cuaca menyebut sejumlah kendala yang mereka hadapi yang membuat mereka kerepotan menebar  garam dapur di awan cumulus congestus di sekitar Pulau Jawa.

    Kepala Unit Pelaksana Teknis Hujan BPPT Florentinus Heru Widodo  menyebut, salah satu kendalanya adalah hanya ada satu pesawat yang dipakai menebar garam. “Kami terkendala dengan kemampuan terbang pesawat yang belum sebanding dengan jumlah massa udara,” kata Heru saat dihubungi Tempo, Kamis, 16 Januari 2014.

    Menurut Heru, hingga hari keempat, tim baru menggunakan satu pesawat Hercules C-130 milik TNI Angkatan Udara.“Sebenarnya ada tiga pesawat yang harusnya digunakan, tapi kami masih harus minta izin kepada TNI, semoga akhir pekan ini sudah bisa digunakan,” ujar dia.

     Selain itu, sebuah pesawat Cessna milik BPPT rencananya juga akan diturunkan untuk memaksimalkan pelaksanaan operasi rekayasa cuaca. Teknologi rekayasa cuaca sendiri terpaksa dimulai pada Selasa untuk keadaan darurat, atas instruksi Presiden SBY.

    Heru membandingkan operasi hujan buatan yang kini tengah berlangsung dengan kegiatan serupa pada tahun 2001. “Pada waktu itu, kami bisa enam kali terbang,” kata dia.

    BPPT masih menghadapi dua angin dari arah barat daya dan barat laut akibat seruak dingin di Laut Cina Selatan dan tekanan udara rendah di uatar Australia. “Dengan satu pesawat, tentu operasi rekayasa cuaca ini belum bisa maksimal. Saya pun belum pede dengan ini.” Badan Meteorologi dan Klimatologi Jakarta pun melansir, hujan dengan berbagai instensitas masih bakal mengguyur Jakarta esok hari.

    Tahun ini, modifikasi cuaca dilakukan selama dua bulan, sejak 14 Januari 2013. Modifikasi cuaca ini ditargetkan mampu mengurangi hujan di wilayah DKI Jakarta hingga 30 persen.

    Dana yang digelontorkan untuk rekayasa cuaca ini sebesar Rp 28 miliar. Sebanyak Rp 20 miliar diberikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana, sementara Rp 8 miliar disediakan oleh Pemprov DKI Jakarta. Namun pada tahun lalu, anggaran yang habis selama 42 hari modifikasi cuaca hanya mencapai Rp 12,8 miliar.

    SUBKHAN

    Berita terkait
    Kisah Pilot Hercules Penyemai Garam di Awan
    Rekayasa Cuaca Tak Maksimal Halau Hujan
    Kendaraan Roda 4 Disarankan Lewat Tol Simatupang
    Banjir Jakarta, 5.500 Anggota Polisi Dikerahkan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Agar Merpati Kembali Mengangkasa

    Sebelum PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) berpotensi kembali beroperasi, berikut sejumlah syarat agar Merpati Airlines dapat kembali ke angkasa.