Rekayasa Cuaca Terancam Angin dari Dua Arah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Navigator mengoperasikan radar pesawat Hercules dalam operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC) bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta, Senin (28/1). TEMPO/Seto Wardhana

    Navigator mengoperasikan radar pesawat Hercules dalam operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC) bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta, Senin (28/1). TEMPO/Seto Wardhana

    TEMPO.CO , Jakarta - Teknologi modifikasi cuaca sudah dilakukan sejak dua hari lalu, tepatnya, 14 Januari 2014. Namun, seruak dingin di Laut Cina Selatan dan tekanan udara yang rendah di utara Australia masih menjadi ancaman kemunculan hujan besar di wilayah Jakarta, serta berpotensi menimbulkan banjir.



    “Ancamannya dari dua arah, yaitu angin dari barat laut dan barat daya,” ujar Kepala Unit Pelaksana Teknis Hujan Buatan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Florentinus Heru Widodo saat dihubungi Tempo, Kamis, 16 Januari 2014. Heru mengatakan, awan cumulus congestus berkumpul cukup tebal di bagian selatan Pulau Jawa, yang langsung berbatasan dengan Australia. Awan itu berkumpul karena fenomena tekanan rendah dan seruak dingin tadi, sehingga awan berkumpul dan mengepung Jawa.



    Sejak hari pertama operasi rekayasa cuaca, wilayah Pelabuhan Ratu selalu menjadi titik mula penerbangan pesawat Hercules C-130 milik TNI Angkatan Udara untuk menyemai natrium klorida, yang menjadi nama kimiawi untuk garam dapur. “Dari sana kami bergerak ke arah barat, menuju Selat Sunda, menuju ke Pandeglang,” kata Heru.



    Garam yang ditaburkan di wilayah tersebut, membikin hujan luruh di lautan. Namun Heru mengakui, rekayasa cuaca yang dilakukan belum bisa maksimal. “Belum sebanding dengan jumlah massa udara yang tercipta,” ujar dia.



    Tahun ini, modifikasi cuaca dilakukan selama dua bulan, sejak 14 Januari 2013 hingga maret mendatang. Modifikasi cuaca ini ditargetkan mampu mengurangi hujan di wilayah DKI Jakarta hingga 30 persen.



    Dana yang digelontorkan untuk rekayasa cuaca ini sebesar Rp 28 miliar. Sebanyak Rp 20 miliar diberikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana, sementara Rp 8 miliar disediakan oleh Pemprov DKI Jakarta. Namun pada tahun lalu, anggaran yang habis selama 42 hari modifikasi cuaca hanya mencapai Rp 12,8 miliar.



    SUBKHAN



    Berita Populer



    Otto Hasibuan Mundur Sebagai Pengacara Akil 
    Djoko Kirmanto: Jokowi Jangan Ambil Wewenang Pusat
    Kisah Cinta Ahok, Beda 9 Tahun dengan Istrinya  
     
    Jajal Bus Transjakarta Baru, Jokowi Kedinginan AC 
    Suami Khofifah Sudah Lama Menulis Hari Kematiannya  






     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Berbagai Cara dalam Menekan Pelanggaran Batasan Bawaan Penumpang

    Direktorat Jenderal Bea dan Cukai terus berupaya menekan pelanggaran batasan bawaan penumpang dari luar negeri di pintu masuk bandara.