Pedagang Kelapa Gading Merana karena Banjir  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tempat parkir kendaraan salah satu pusat perbelanjaan yang tergenang banjir  jalan Boulevard Barat, Kelapa Gading, Jakarta, (17/1). Hujan yang mengguyur Ibukota sejak malam hingga pagi membuat kawasan tersebut tergenang hingga 30 Cm. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Tempat parkir kendaraan salah satu pusat perbelanjaan yang tergenang banjir jalan Boulevard Barat, Kelapa Gading, Jakarta, (17/1). Hujan yang mengguyur Ibukota sejak malam hingga pagi membuat kawasan tersebut tergenang hingga 30 Cm. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Mahardika Wiraatmadja, 23 tahun, hanya duduk melamun. Sales showroom mobil Hyundai itu sedari pagi belum menerima pembeli sama sekali. Bahkan satu pengunjung pun belum mampir ke showroom yang ada di rumah toko di Jalan Boulevard Barat, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

    Menurut dia, minimnya pengunjung disebabkan oleh adanya genangan setinggi sekitar 40 sentimeter di Jalan Boulevard Barat. Tak ayal lagi, selama sehari penuh sama sekali tidak ada transaksi penjualan mobil.

    "Kalau tidak banjir, bisa sampai tiga mobil terjual. Sekarang, satu pun tidak ada," kata dia kepada Tempo, Jumat, 17 Januari 2014. Jika harga per mobilnya sekitar Rp 400 juta, ia melanjutkan, maka hari ini kehilangan pendapatan sebanyak Rp 1,2 miliar.

    Ruko yang didominasi warna putih itu terdiri atas dua lantai. Lantai pertama dapat menampung sekitar enam buah mobil, sedangkan lantai dua bisa memuat sekitar 3 mobil.

    Banjir, kata dia, cukup melumpuhkan kegiatan ekonomi yang ada di sekitar daerah Kelapa Gading. Hal yang sama juga dikatakan Tri Novi, 25 tahun, kasir toko yang menjual sepeda merek United di kompleks Ruko Inkopal, Kelapa Gading.

    Ia menyatakan, genangan banjir membuat pelanggan enggan menyambangi ruko yang berada di blok B nomor 5-6 itu. Padahal, jika tidak banjir, tokonyapaling tidak bisa menjual 5-6 buah sepeda, atau mendapat pemasukan sekitar Rp 9-40 juta. "Sekarang tidak ada sama sekali," ucapnya lirih.

    Di toko tersebut berjejer sepeda yang harganya cukup menguras kantong. "Di sini kami jual sepeda dari kisaran harga Rp 2-90 juta. Ada yang impor dan lokal." Ia melanjutkan, "Kebanyakan pembelinya itu milih yang impor."

    Tak hanya transaksi ekonomi yang lumpuh, jumlah pengunjung mal pun berkurang cukup signifikan. Cecep Nurhakim, 57 tahun, Manager Building Hypermall, mengatakan, jumlah pengunjung berkurang sekitar 20 persen dari hari biasa.

    "Kalau tidak banjir, sekitar seribu pengunjung datang ke mal. Sekarang berkurang 20 persen," katanya. Menurut dia, jumlah pengunjung menurun lantaran warga enggan keluar rumah karena genangan terjadi di mana-mana. Padahal, ketinggian air tidak begitu signifikan.

    Ia melanjutkan, banjir juga membuat sejumlah toko di dalam mal tutup. "Dari total 1.500 toko,sekitar 20 toko tutup." Penyebabnya, banyak pegawai yang tidak masuk. "Pegawai tidak masuk karena rumahnya kebanjiran."

    Kepala Suku Dinas Tata Air Jakarta Utara, Wagiman Silalahi, mengatakan, sekitar 20 persen wilayah Jakarta Utara terendam banjir, Jumat, 17 Januari 2014. Setidaknya ada tujuh titik lokasi genangan air di wilayahnya. Di antaranya: Kelapa Gading dengan ketinggian air 40 sentimeter, Pademangan Barat (20 sentimeter), Kapuk Muara (20 sentimeter), Muara Baru (10 sentimeter), Gunug Sahari (35 sentimeter), Kampung Bandan (20 sentimeter), dan Ancol (20 sentimeter).

    ERWAN HERMAWAN

    Berita Lain
    Loyalis Anas: Pemecatan Pasek Blunder Demokrat 
    Pasek Dipecat sebagai Anggota DPR 
    Saling Sindir Anas-SBY Sebelum "Perang Buku"
    Titik-titik Banjir Jumat Pagi Ini
    Ani Yudhoyono: Ini Tustel Pribadi, Paham?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Baru E - Commerce yang Tertuang dalam PP PMSE

    Pemerintah resmi menerbitkan regulasi tentang e-commerce yang tertuang dalam PP PMSE. Apa yang penting dalam aturan baru tersebut?