Warga Enggan Mengungsi di Puskesmas Jatinegara  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Puskesmas. Tempo/Subekti

    Ilustrasi Puskesmas. Tempo/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Kamar seluas 15X5 meter itu kosong melompong. Lima kasur berjejer tak bertuan. Ruangan yang didominasi warna putih itu merupakan ruang Seruni di Puskesmas Jatinegara, Jakarta Timur. Ruangan itu dikhususkan untuk pengungsi hamil atau yang mempunyai balita.

    Hafitawati, petugas puskesmas, mengaku pengungsi warga Kampung Pulo sangat tidak berminat tinggal di puskesmas. Alasannya, bantuan makanan cukup sulit didapat.

    Walhasil, sejak banjir melanda Kampung Pulo, Jakarta Timur, baru tercatat 14 orang yang tinggal di puskesmas. "Sejak tanggal 12 sampai sekarang, baru 14 orang yang tinggal di sini. Itu pun hanya sebentar saja, tidak lama. Semalam juga sudah balik lagi ke pengungsian lain," katanya kepada Tempo, Selasa, 21 Januari 2014.

    Padahal, menurut dia, semua fasilitas lengkap: tempat tidur busa, kamar mandi di dalam, selimut, dan lainnya. Hanya, kalau untuk makanan disediakan di Suku Dinas Kesehatan atau tepat di samping puskesmas. "Kami tidak diberikan dana untuk menyediakan makanan," ujarnya.

    Hafitawati menuturkan, pihaknya telah ditunjuk oleh Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur untuk menyediakan ruangan khusus bagi ibu hamil dan yang mempunyai balita. Sebanyak tiga ruangan telah disediakan: ruang Seruni, Anggrek, dan Observasi. Masing-masing kamar terdiri atas lima tempat tidur atau kapasitas per ruangannya sebanyak lima orang.

    Untuk saat ini, kata dia, pihaknya baru menyediakan ruang Seruni saja untuk pengungsi. "Kalau penuh, maka kami sediakan ruang Anggrek dan Observasi," ucapnya. Ia melanjutkan, "Tapi pengungsi pada tidak mau tinggal di sini."(Baca: 387 Warga Kampung Pulo Mulai Mengungsi)

    Yulianti, 25 tahun, salah seorang pengungsi, mengaku kesulitan mendapatkan bantuan jika tinggal di puskesmas. "Kalau mau mendapat bantuan harus ke Sudinkes dulu. Repot jadinya," tuturnya di ruang Observasi.

    Ia dan bayinya yang berusia 11 bulan itu hanya tinggal sendiri di puskesmas. Itu pun dirinya akan balik ke tempat pengungsian di GOR Otista. Menurut warga RW 3 Kampung Pulo itu, hidup di GOR lebih terjamin. "Bantuan cepat didapat. Lagipula di sana tidak terlalu dingin juga. Di sini dinginnya minta ampun."

    Selain itu, ia menambahkan, bayinya sedang terserang demam. "Kalau ruangannya dingin, demamnya makin kambuh," ucapnya.

    Lurah Kampung Melayu, Bambang Pangestu, mengatakan banyak warga yang masih mementingkan perut dibandingkan dengan kesehatan anaknya. "Mereka lebih memikirkan takut tidak kebagian makan daripada kesehatan anaknya," kata dia.

    Padahal, setelah banjir bantuan tetap ada. "Setelah banjir untuk bantuan bahan mentah nanti mereka juga kebagian melalui pengurus RT masing-masing," ujar Bambang.

    ERWAN HERMAWAN

    Berita Terpopuler
    Ahok: Gimana Enggak Banjir Kalau Tanggul Dibolongi?
    Jokowi Rembuk Banjir di Katulampa, Ini Hasilnya
    Jakarta Banjir, Ruhut Tuntut Jokowi Minta Maaf
    Alasan Jokowi Mau Pasang Badan untuk Pusa


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.