Banjir, Ada Tiga Ruas Jalan Tak Bisa Dilewati

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sebuah angkutan umum terendam banjir di jalan Otista, Jakarta, (22/1). Banjir kembali merendam jalan tersebut, akibat meluapnya Sungai Ciliwung. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Sebuah angkutan umum terendam banjir di jalan Otista, Jakarta, (22/1). Banjir kembali merendam jalan tersebut, akibat meluapnya Sungai Ciliwung. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Beberapa ruas jalan di Jakarta masih tergenang air pada Kamis pagi, 23 Januari 2014. Menurut informasi dari Traffic Management Center Polda Metro Jaya, sejumlah jalan banjir itu ada yang masih dapat dilewati oleh kendaraan. Namun ada tiga ruas tak bisa dilalui kendaraan.

    1. Jalan di bawah jalan layang Kampung Melayu-Gudang Peluru, Jakarta Timur masih tergenang air tinggi. Sementara jalan ini tak bisa dilalui kendaraan bermotor.

    2. Jalan Tubagus Ange Jakarta Barat (arah ke Jembatan Dua), genangan air setinggi 30-40 sentimeter. Bagi kendaraan sejenis sedan disarankan tidak

    3. Kawasan lampu lalu lintas di Puri Kembangan, Jakarta Barat, genangan air mencapai 40 sentimeter. Kendaraan jenis sedan disarankan menghindarinya.

    Sementara jalan yang bisa dilalui kendaraan:

    a. Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat, tepatnya depan Samsat, genangan air sekitar 15-20 sentimeter. Kendaraan bisa melintas.

    b. Jalan depan kampus Universitas Trisakti di Grogol, genangan air sudah surut.

    c. Jalan Otto Iskandar Dinata (Otista), Kampung Melayu, Jakarta Timur, genangan air sudah surut dan bisa dilintasi kendaraan bermotor.

    PDP

    Terpopuler:
    Mengapa Ahok Keras Menjaga Waduk Pluit?
    Titik Banjir Hari Ini 22 Januari 2014
    Ahok: Sampai Kiamat Juga Kebanjiran! 
    Awas, Tanggul Jebol di Wilayah Ini 
    Tol Tangerang-Merak Terendam Banjir di KM 38

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.