Jokowi Dibikin Pusing dengan Utilitas Bawah Tanah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Proyek pembangunan Mass Rapid Transit mulai dikerjakan di Dukuh Atas, Jakarta Pusat,  (10/10). Proyek MRT tahap I sepanjang 15,7 Km yang diperkirakan akan selesai hingga Mei 2018 dengan menelan biaya senilai USD1,5 miliar atau sekitar Rp15 trilliun. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Proyek pembangunan Mass Rapid Transit mulai dikerjakan di Dukuh Atas, Jakarta Pusat, (10/10). Proyek MRT tahap I sepanjang 15,7 Km yang diperkirakan akan selesai hingga Mei 2018 dengan menelan biaya senilai USD1,5 miliar atau sekitar Rp15 trilliun. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Semrawutnya utilitas bawah tanah di Jakarta pernah membuat Gubernur Joko Widodo sakit kepala. Soalnya, berbagai kabel dan pipa yang malang melintang itu menyumbat saluran air di berbagai tempat. Ketika hujan, air sulit mengalir dan akhirnya terjadi genangan.

    Rupanya, berbagai kabel dan pipa itu juga membuat pusing para pelaksana proyek Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta. Soalnya, utilitas itu tertanam dangkal, tidak sesuai dengan Peraturan Gubernur Nomor 128 Tahun 2010 yang menyebutkan kabel harus ditanam minimal di kedalaman 130 sentimeter. "Kami gali dengan tangan sedikit saja sudah muncul kabel," ujar Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta Muhammad Nasyir ketika ditemui di kantornya pekan lalu.

    Padahal, itu bukan urusan yang sepele. Jika ada kabel yang rusak bisa-bisa ada jaringan telepon atau Internet yang putus. Lebih gawat lagi jika ternyata utilitas itu merupakan kabel listrik atau pipa gas.

    Ternyata tak semua pemilik utilitas itu tahu di mana aset mereka berada. Data mereka seringkali tak sesuai dengan kondisi lapangan. "Bahkan, PGN tidak tahu punya pipa gas yang lewat di Sudirman," katanya. Utilitas itu baru ketahuan ketika kontraktor dan PT MRT Jakarta melakukan investigasi tanah ketika menyiapkan konstruksi. "Untung saja itu bukan pipa gas aktif. Kalau aktif, bisa meledak. Gawat sekali," ujar Nasyir.

    Utilitas-utilitas itu seharusnya sudah bersih sebelum kontraktor menandatangani kontrak pembangunan. Tetapi ternyata, ketika diteliti ulang, kabel dan pipa yang malang melintang itu masih ada.

    Salah satu persoalan utilitas yang rumit adalah gardu listrik yang berada di tengah-tengah jalur hijau di Jalan Sudirman, dekat Dukuh Atas. Pemindahannya tidak bisa dilakukan dengan cepat. Soalnya, mereka harus lebih dulu membuat gardu baru dan memindahkan aliran listrik. Setelah itu, barulah gardu listrik yang lama dinonaktifkan. "Persoalan listrik itu tidak bisa asal copot, bisa-bisa sejumlah area tidak terpasok listrik nantinya," kata Nasyir. Kini PT MRT Jakarta bekerja sama dengan PT PLN untuk membangun gardu baru lebih dulu. Instalasi listriknya ditangani penuh oleh PLN.

    ANGGRITA DESYANI

    Berita Terpopuler
    Disebut Capres Banjir, Jokowi: Masa Bodoh!

    Risma Temukan 2 Karung Duit di Kebun Binatang Surabaya

    Akun Instagram Ani Yudhoyono Terpopuler di Dunia

    Titik Banjir Hari Ini 22 Januari 2014


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.