Kampung Melayu Belum Bisa Dilewati Kendaraan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana kawasan Kampung Melayu yang terendam banjir, tepatnya di depan Gudang Peluru Jl. KH Abdullah Syafei, Jakarta Selatan, Sabtu (18/1). Tingginya genangan air yang menggenangi kawasan tersebut, membuat akses jalan terputus dan tidak dapat dilalui kendaraan bermotor. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Suasana kawasan Kampung Melayu yang terendam banjir, tepatnya di depan Gudang Peluru Jl. KH Abdullah Syafei, Jakarta Selatan, Sabtu (18/1). Tingginya genangan air yang menggenangi kawasan tersebut, membuat akses jalan terputus dan tidak dapat dilalui kendaraan bermotor. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Beberapa ruas jalan di Ibu Kota masih digenangi air dengan kedalaman yang cukup tinggi. Akibatnya, di beberapa ruas jalan pada hari ini, Jumat, 24 Januari 2014, terjadi kepadatan lalu lintas.

    Traffic Management Center Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya merilis beberapa titik yang masih mengalami genangan akibat curah hujan, baik yang terjadi beberapa waktu lalu sampai hari ini.

    Adapun titik jalan yang masih tergenang air adalah Jalan Abdullan Safi'I, Gudang Peluru, Jakarta Selatan. Di sana kedalaman air masih mencapai ketinggian 40 sentimeter. Begitu pun Kampung Melayu arah Tebet masih terendam air hingga ketinggian 40 sentimeter.

    Meski terpantau tidak dalam kondisi hujan, pengguna jalan tetap harus waspada dengan kondisi jalan yang licin. Pada hari ini saja hujan diperkirakan akan terus membayangi Ibu Kota hingga malam nanti.

    ISMI DAMAYANTI

    Berita Lain:
    Ditanya Sodetan, Jokowi: Saya Enggak Bisa Nyodet
    Harga Rumah Mewah Sutan Ditaksir Rp 15 Miliar
    Begini Tuntutan Pelawak kepada Jokowi
    Miliarder Ini Sumbang 10 Bus Transjakarta
    Akil Pasang Tarif Miliaran Urus Sengketa


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.