Banjir Jakarta Surut, Sampah dan Lumpur Menumpuk  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang bocah melintasi sampah yang terbawa banjir di kawasan Kebon Baru, Jakarta (23/1). Setidaknya 300 ton sampah per hari diangkut Dinas Kebersihan DKI Jakarta dari seluruh sungai atau kali di Jakarta selama banjir yang melanda hampir dua pekan tersebut. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Seorang bocah melintasi sampah yang terbawa banjir di kawasan Kebon Baru, Jakarta (23/1). Setidaknya 300 ton sampah per hari diangkut Dinas Kebersihan DKI Jakarta dari seluruh sungai atau kali di Jakarta selama banjir yang melanda hampir dua pekan tersebut. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Sejumlah masalah muncul setelah banjir melanda wilayah Jakarta. Di antaranya tumpukan sampah dan lumpur. Sejumlah warga juga harus merelakan barang elektronik milik mereka mati atau perabotan rumah tangga hilang karena hanyut terbawa derasnya Sungai Ciliwung.

    Elin, 25 tahun, mengatakan lumpur di rumahnya sudah mulai kelihatan. "Kira-kira tebalnya sekitar 30 sentimeter," ujarnya. Banyak warga di RT 09 RW 02, Kelurahan Cawang, yang sudah membersihkan rumah mereka dari lumpur. "Semuanya sukarela, tidak ada bantuan dari pihak pemerintah untuk membersihkan lumpur," ujar Elin, Sabtu, 25 Januari 2014.

    Tak hanya lumpur, menurut Elin, banjir kiriman dari hulu pun membawa banyak sampah, terutama sampah plastik. "Kebanyak botol air mineral," kata dia. Bahkan, ketika air mulai surut, Jumat kemarin, warga sudah mengangkut puluhan karung berisi sampah ke tempat penampungan. Karena tidak ada bantuan dari Dinas Kebersihan, warga harus membayar iuran Rp 3.000 per karung untuk mengangkut sampah.

    Lumpur yang menggunung juga harus dihadapi Sunaryo, 50 tahun, warga RW 02 Kelurahan Cawang. "Di rumah saya lumpurnya sudah tebal. Kalau nginjak saja sudah kayak di sawah," kata dia. Kendati lumpur tebal, Sunaryo belum bisa membersihkannya karena air setinggi 1,5 meter yang merendam rumahnya belum juga surut.

    Sunaryo juga harus menghadapi kenyataan pahit. Seluruh perabotan rumahnya hilang terbawa arus  Sungai Ciliwung. Selain itu, gerobak yang biasa dia pakai untuk berdagang batagor rusak parah terendam air. "Karena arusnya deras, gerobak saya terbalik dan rusak," kata dia kepada Tempo di pengungsian Sinar Kasih, Gang Arus, Cawang, Sabtu, 25 Januari 2014.

    Walhasil, selama dua minggu dia tidak bisa berjualan. Padahal berdagang batagor adalah satu-satunya sumber penghasilannya."Saya enggak tahu harus ngapain lagi," ucap Sunaryo dengan wajah murung.

    Ida Lestari, 24 tahun, warga lainnya, mengatakan sampah relatif masih sedikit karena terbawa derasnya arus Sungai Ciliwung. Kendati demikian, tetap saja ada sampah yang menyangkut di perumahan warga.

    Ia mengatakan, selain mendatangkan sampah dan lumpur, banjir turut menghancurkan perabotan rumah tangga. Misalnya, lemari miliknya hancur akibat genangan air. "Lemari saya sudah tidak bisa dipakai lagi," katanya.

    Selain itu, barang elektronik pun rusak akibat terendam air. "Radio saya rusak karena kemasukan air. Terpaksa saya buang karena tidak bisa dipakai lagi," katanya.

    Genangan air selama hampir dua pekan juga membuat dinding rumahnya kotor. "Mungkin kami harus cat ulang, dan itu perlu duit lagi," keluhnya. Untungnya, di daerahnya tidak ada rumah yang ambrol terbawa derasnya arus Sungai Ciliwung. "Mungkin di daerah lain ada tapi di sini saya tidak dengar," ujarnya.

    ERWAN HERMAWAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.