Masalah Internal, Polisi Berjaga di Cempaka Mas

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi bentrokan. ANTARA/Seno S.

    Ilustrasi bentrokan. ANTARA/Seno S.

    TEMPO.CO , Jakarta:Fery Johan sama sekali tak menyangka Selasa kemarin akan bernasib sial. Dipukuli 20-an orang, kursi pun melayang ke tubuhnya. Padahal Fery tengah menikmati sore, sambil duduk di depan kantornya. Fery merupakan pegawai di kantor Pengurus Pengelola Rumah Susun Cempaka Mas, Jakarta Pusat.

    "Satu orang korban. Lagi duduk-duduk terus langsung dihajar sekitar 20-an massa," tutur Ketua Pengurus PPRS Apartment Graha Cempaka Mas, Heddy Nurya di kantornya.

    Ferry menjadi korban ketika sekelompok orang dari satu organisasi masyarakat menggeruduk tempatnya bekerja. Mereka mengobrak-abrik lokasi itu. Puluhan kursi di depan kantor PPRS berantakan. Fery terluka di pergelangan tangan. Wajahnya lebam-lebam.

    Polisi sebenarnya berada di sekitar lokasi saat kejadian. Namun mereka tak menangkap satu pelaku pun. "Polisi cuma lihat-lihat saja, enggak ditangkap. Cuma dilerai dan dilepasin gitu aja," ujar Heddy. Kemarin, lokasi tempat puluhan kursi itu kini hanya dibatasi tali rafia warna hijau.

    Polisi terlihat bersiaga di sekitar pintu masuk apartemen. Sebanyak 150 polisi disebar di sejumlah titik. "Sebanyak 50 personel di pintu masuk, 50 personel di pintu keluar, dan 50 personel berpatroli di sekitar lokasi," kata Kepala Kepolisian Resor Metro Jakarta Pusat, Komisaris Besar Angesta Ramano Yoyol. Ia  membantah jajarannya tidak berusaha menangkap para pembuat onar itu. "Tadi kami sudah mencoba mengejar, tapi ormas itu kabur," ujar Yoyol.  

    Yoyol menduga penggerudukan ini merupakan masalah intern pengelola apartemen. Jadi, kepolisian hanya bisa memberikan pengamanan. "Ini bukanlah ranah kepolisian. Kami hanya menjaga keamanannya saja," kata Yoyol.

    SINGGIH SOARES


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.