BPPT Perangi Hujan di Jakarta Hari Ini

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah kendaraan bermotor terjebak banjir saat mencoba melintasi ruas Jalan Kapten Tendean, Jakarta Selatan (29/1). Banjir dikawasan tersebut diakibatkan hujan yang mengguyur Ibu Kota sejak tadi malam, serta dari luapan aliran Kali Ciliwung. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Sejumlah kendaraan bermotor terjebak banjir saat mencoba melintasi ruas Jalan Kapten Tendean, Jakarta Selatan (29/1). Banjir dikawasan tersebut diakibatkan hujan yang mengguyur Ibu Kota sejak tadi malam, serta dari luapan aliran Kali Ciliwung. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi tetap melakukan rekayasa cuaca hari ini, Rabu, 29 Januari 2014. "Kegiatan rekayasa cuaca tetap dilakukan sampai pukul 18.00 WIB," kata Kepala Unit Pelaksana Teknis Hujan Buatan BPPT Heru Widodo kepada Tempo melalui pesan singkat, Rabu pagi, 29 Januari 2014.

    Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, wilayah Jabodetabek dan bahkan sebagian besar Indonesia diprediksi diguyur hujan. Di Jakarta, puncak musim hujan diyakini sudah tiba. Hujan di Jakarta diperkirakan akan turun terus-menerus selama satu-tiga hari ke depan. Akibatnya, wilayah Ibu Kota pun berpotensi mengalami banjir kembali akibat hujan seharian di wilayah hulu dan hilir Jakarta. (Baca: Jakarta Dikepung Calon Banjir Besar)

    Heru mengatakan upaya rekayasa cuaca hari ini akan mengandalkan satu unit pesawat C-130 Hercules milik TNI Angkatan Udara. Namun Heru belum bisa memastikan lokasi tim BPPT menabur garam atau natrium klorida di atas awan. "Kami berpedoman pada radar cuaca, di mana awan saat ini berada di bagian barat," katanya.

    Tim BPPT akan mencari awan pembawa hujan yang bergerak mendekati wilayah Ibu Kota. Jika sudah menemukan target, berton-ton garam akan disebar ke awan untuk mempercepat hujan turun. Hanya dalam hitungan maksimal satu jam, awan yang menjadi sasaran akan menurunkan hujan sebelum sampai di Jakarta.

    Namun keterbatasan alat dan teknologi menghambat efektivitas rekayasa cuaca. Tim BPPT dan Angkatan Udara belum memiliki kemampuan untuk terbang masuk ke dalam awan pada malam hari. Sebab, untuk terbang pada malam hari, perlu alat visual bersistem infra merah yang bisa melihat digelap malam. Walhasil, penaburan garam hanya bisa dilakukan dari pagi hingga petang.

    "Jadi kami hanya bisa mengurangi awan pada pagi-sore saja. Awan malam hari tidak bisa kami hujankan di luar Jakarta," ujar Heru.

    INDRA WIJAYA

    Terhangat:
    Banjir Jakarta | Cipularang Ambles | Pemilu Serentak | Jokowi Nyapres | Gempa Kebumen

    Terpopuler :
    Menteri Luar Negeri Inggris Sambangi Jokowi
    Massa Geruduk Apartemen Cempaka Mas
    Lalu Lintas Menuju Bandara Halim Belum Macet
    Amdal Bandara Halim Hampir Rampung
    Penembak Briptu Nurul Ditangkap di Lampung
    Sampah Banjir Jakarta Lebih dari 3.350 Ton


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.