Kenaikan Tarif KRD Pangrango Dikeluhkan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kereta api Pangrango. Twitter.com/@KA_Pangrango

    Kereta api Pangrango. Twitter.com/@KA_Pangrango

    TEMPO.CO , Bogor - Kenaikan tarif Kereta Rel Diesel (KRD) Pangrango jurusan Bogor-Sukabumi yang diberlakukan oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) per tanggal 1 Februari lalu, dikeluhkan oleh warga yang menjadi pengguna KRD. Kenaikan tarif tersebut tidak dibarengi dengan peningkatan fasilitas dan sarana prasarana yang diberikan untuk penumpang.


    Budi, 32 tahun, salah seorang pengguna mengatakan, seharusnya PT KAI terlebih dahulu meningkatkan prasarana dan sarana yang masih banyak yang kurang, sebelum memberlakukan kenaikan tarif. "Fasilitas tunggu di stasiun Paledang Bogor aja tidak ada, jangankan tempat duduk yang nyaman, untuk menunggu KRD datang saja tidak nyaman apalagi saat ini kondisinya musim hujan," kata dia.

    Terlebih lagi, keluh dia, sering kali setiap perjalanan fasilitas AC yang ada dalam gerbong ekonomi bahkan Bisnis kerap tidak berfungsi, sehingga mengurangi rasa aman dan nyaman penumpang di dalamnya. "Sering banget pendingin udaranya tidak berfungsi, bahkan sudah satu bulan lalu KRD sempat tidak bisa melintas karena ada longsoran dan rel yang rusak," kata dia.

    Menurut dia, kenaikan tarifnya pun lumayan cukup besar yakni untuk tarif Ekonomi yang tadinya sebesar Rp 15 ribu naik menjadi Rp 20 ribu. Sedangkan tarif Bisnis yang awalnya RP 35 ribu naik menjadi 50 ribu. " Ini sangat memberat kan kami, " kata dia.


    Sementara itu, Kepala Humas PT KAI Daerah Operasi (DAOP) I Jakarta Agus Komarudin membenarkan jika harga tiket KA Pangrango tujuan Bogor-Sukabumi maupun arah sebaliknya mengalami kenaikan sejak 1 Februari kemarin. Untuk kelas Ekonomi AC dari Rp 15 ribu menjadi Rp20 ribu, sedangkan untuk kelas Eksekutif dari Rp 35 ribu menjadi Rp 50 ribu," kata dia.

    Menurutnya, kenaikan tarif KRD Pangrango tersebut dikarenakan tarif awal yang diberlakukan merupakan tarif promo, dan saat ini sudah layak untuk menggunakan dan memberlakukan tarif normal. "Pas kita launcing kan masih menggunakan tarif lama, dan kita sekarang menggunakan harga normal," kata dia.


    Ia mengatakan, dengan adanya peningkatan tersebut pihaknya akan tetap meningkatkan sarana dan prasarananya. "Untuk fasilitas tunggu kita akan koordinasikan lebih lanjut," kata dia.

    M SIDIK PERMANA


    Terpopuler
    Jokowi Datangi Kampung Deret, Seorang Ibu Mengeluh
    Tim Pemburu Koruptor Kejar Eddy Tansil
    SBY Minta Pertimbangan DPR Soal Pecat Azlaini Agus 
    Eksekutor Feby Lorita Tertangkap di Siantar
    Bhatoegana, Ngeri-ngeri Suap dan Kawat Gigi
    Jokowi dan Risma Diadu oleh PDIP
    Inilah Jadwal Tur Nusantara Timnas U-19
    'Semeton Jokowi' Dideklarasikan di Tabanan 
    Rhoma Tinggalkan RS, Terbang ke Tegal  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.