Monyet Liar Akan Dilepas ke Kepulauan Seribu  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Monyet-monyet hasil razia topeng monyet saat dikarantina di Balai Kesehatan Hewan dan Ikan, Ragunan, Jakarta, (3/2). Sebanyak 37 ekor monyet hasil razia topeng monyet masih dalam perawatan untuk dilepasliarkan nanti. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Monyet-monyet hasil razia topeng monyet saat dikarantina di Balai Kesehatan Hewan dan Ikan, Ragunan, Jakarta, (3/2). Sebanyak 37 ekor monyet hasil razia topeng monyet masih dalam perawatan untuk dilepasliarkan nanti. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO , Jakarta: - Monyet-monyet liar yang ditangkar di Balai Kesehatan Hewan dan Ikan di Ragunan akan dilepas ke Kepulauan Seribu. Namun monyet yang akan dilepas benar-benar yang sudah dinyatakan sehat oleh balai.

    "67 dari 83 monyet akan dilepas ke Kepulauan Seribu," ujar Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Ipih Ruyani lewat pesan singkat, Jumat, 7 Februari 2014. Monyet-monyet ini akan dilepas ke tiga pulau di Kepulauan Seribu, yakni Pulau Tikus, Pulau Damar, dan Pulau Bokor. Monyet-monyet ini akan dilepas

    Sisa monyet yang belum sehat masih akan mendapatkan perawatan di balai. 16 monyet tersisa diduga terjangkit penyakit tubercolosis. Penyakit inilah yang membuat Taman Margasatwa Ragunan menolak monyet-monyet liar itu untuk ditangkar di sana.

    Kepala Seksi Puskesmas BKHI Aswindrastuti menyatakan perawatan masih akan berlangsung di tempatnya untuk 83 monyet liar. Monyet yang sudah sehat akan dilatih bersosialisasi satu sama lain. "Agar ketika sudah dilepas bisa menjadi sebuah kelompok," ujarnya.

    Namun hal itu memerlukan waktu yang tak singkat. Ia berharap monyet-monyet ini masih bisa berada di balai minimal hingga tengah tahun ini. Sehingga ketika dilepasliarkan, monyet-monyet tersebut bisa beradaptasi dengan lingkungannya.

    M. ANDI PERDANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.