Karyawan PDAM Tangerang Dituduh Direkrut Ilegal  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Iqbal Lubis

    TEMPO/Iqbal Lubis

    TEMPO.CO, Tangerang - Direktur Umum Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Benteng, Kota Tangerang, Toni Wismantoro, mengatakan ratusan pegawai PDAM direkrut secara ilegal pada 2011-2012. "Mereka dipekerjakan tanpa melalui tes masuk, tidak melibatkan dewan pengawas dan bagian kepegawaian PDAM Tirta Benteng," kata Toni, Senin, 10 Februari 2014.

    Menurut Toni, mereka masuk dan bekerja di perusahaan air minum pelat merah itu melalui sekretaris Direktur Utama PDAM. Ketika itu Direktur Utama PDAM dijabat Ahmad Madju Kodri, yang kini tengah ditahan sebagai tersangka korupsi.

    "Proses pengangkatan calon pegawai dan surat keputusan pengangkatan dilakukan langsung oleh Ahmad Madju," kata Toni. "Jadi, kalau mereka sekarang menuntut, silakan menuntut ke pihak yang merekrut."

    Toni mengatakan tersebar kabar bahwa ratusan karyawan itu harus menyetor uang berjumlah besar pada proses rekrutmen. Namun dia sendiri mengaku tidak mengetahui benar tidaknya kabar itu. "Tapi kalau mendengar selentingan, iya," katanya.

    Ketua Dewan Pengawas PDAM Tirta Benteng Ivan Yudianto menyatakan sudah berkali-kali mengeluarkan surat teguran ke direksi PDAM terkait dengan rekrutmen pegawai ilegal itu. Namun tidak pernah digubris. (Baca juga: Perekrutan Pegawai PDAM Tangerang Sudah Prosedural).

    "Semestinya proses rekrutmen pegawai dilakukan berdasarkan hasil analisis. Pun harus terbuka dan diumumkan," ujar Ivan.

    JONIANSYAH

    Terpopuler:
    Importir Busway Bantah Armada Rekondisi
    Busway Baru tapi Bekas Bahayakan Penumpang
    Polisi Tilang 18 Motor di Jalan Layang Casablanca 
    Depok Berlakukan Contraflow di Kolong Flyover UI
    Pemanas Kentang Penyebab Kebakaran di Steak 21

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.