Busway Pembelian 2010 Diduga Juga Bekas  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sebuah Bus Transjakarta baru asal cina tiba di Pelabuhan Indonesia Kendaraan Terminal, Tanjung Priuk, Jakarta, (23/12). Indonesia datangkan 12 Bus Transjakarta baru asal China. Tempo/Dian Triyuli Handoko

    Sebuah Bus Transjakarta baru asal cina tiba di Pelabuhan Indonesia Kendaraan Terminal, Tanjung Priuk, Jakarta, (23/12). Indonesia datangkan 12 Bus Transjakarta baru asal China. Tempo/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO, Jakarta - Puluhan bus Transjakarta yang dibeli pada 2010 lalu diduga juga merupakan bus bekas, Selasa, 11 Februari 2014. Akibatnya, meski harga bus tergolong mahal, kualitasnya rendah dan mudah rusak. Berdasarkan hasil investigasi majalah Tempo edisi 30 September 2012 ditemukan fakta adanya kongkalikong dalam pembelian bus Transjakarta 2010. Puluhan bus yang digunakan untuk melayani Koridor 9 dan 10 diduga memiliki kualitas tabung di bawah standar. Akibatnya, salah satu bus meledak di stasiun pengisian gas Pinang Ranti, Jakarta Timur, pada 20 Oktober 2011.

    Pengadaan puluhan bus, termasuk bus yang meledak di Pinang Ranti, sarat masalah. Sebagian besar bus diduga kuat sudah jadi sebelum tender digelar. Padahal dokumen lelang mensyaratkan bus harus dirakit per tahap dari awal. (Baca juga: Aneka Masalah Bus Transjakarta Baru Jokowi).

    Kasus itu berawal ketika Dinas Perhubungan DKI Jakarta membuka lelang pengadaan bus pada akhir 2009. Pembelian bus ini diperuntukkan buat mengisi Koridor 9 dan 10, melayani rute Pluit-Pinang Ranti dan rute Tanjung Priok-Cililitan. PT Korindo menjadi pemenang tender. Korindo memasok 69 unit dengan nilai proyek Rp 106,7 miliar atau Rp 1,53 miliar per unit.

    Proses produksi disebar di sejumlah perusahaan karoseri. Di antaranya 13 unit dikerjakan di Laksana (Semarang), tujuh unit di Trisakti (Magelang), dan tujuh unit di Restu Ibu (Bogor). Sebanyak 42 unit dikerjakan di pusat karoseri milik Korindo di Balaraja, Tangerang. Persoalan muncul saat proses produksi dimulai pada Juli 2010. Sebagian besar bus di Balaraja ternyata tidak dirakit dari nol alias sudah jadi, demikian dikatakan sejumlah sumber kepada Tempo.

    Padahal salah satu klausul dokumen lelang menyebutkan perakitan bus mesti dikerjakan per modul, yang sekurang-kurangnya dari sasis dan mesin, bodi kendaraan, lalu aksesori. Pengerjaan tiap modul harus diawasi dan diverifikasi tim teknis dari Dinas Perhubungan.

    Tim teknis wajib meminta laporan berkala proses pengerjaan yang dilakukan Korindo. Begitu pula sebaliknya, Korindo wajib melaporkan setiap tahap perakitan dan memfasilitasi verifikasi seluruh proses pembuatan bus. Bila klausul ini dilanggar, Dinas Perhubungan berhak menghentikan pengadaan terhadap satu atau beberapa bus, termasuk menjatuhkan sanksi kepada Korindo. Namun langkah ini tidak pernah ditempuh Dinas Perhubungan.

    Sejumlah sumber mengatakan sekitar 80 persen dari 42 bus yang dipasok dari pusat karoseri Korindo di Balaraja sudah jadi. Bus yang ditawarkan Korindo ini merupakan stok kendaraan yang sudah terjemur di parkiran Korindo di Balaraja sejak 2008. "Bus ini sudah kami buat empat tahun lalu untuk tender Koridor 5 dan 7," kata sumber yang mengerti proses perakitan di Korindo.

    Sebagian bus itu adalah bus yang batal dibeli oleh Perum PPD pada 2008 karena kalah tender. Puluhan bus itu lantas diparkir begitu saja di lapangan. Bus yang dirakit Korindo pada 2008 itulah yang kemudian dipasok buat memenuhi sebagian besar kebutuhan armada di Koridor 9 dan 10 pada 2010. Artinya, meski statusnya baru, secara fisik bus itu telah ada dan dijemur di tempat parkir selama dua tahun. Kata sejumlah sumber kepada Tempo, bus yang benar-benar baru itu yang dikerjakan oleh karoseri Laksana, Trisakti, dan Restu Ibu.

    Sumber lain mengatakan, untuk mengakali itu, Korindo memodifikasi bus yang sudah jadi agar memiliki spesifikasi sesuai dengan dokumen lelang. Di antara yang dilakukan adalah mengubah model pintu dari sliding ke swing in. "Ukuran pintu dan tata letak kursi juga diubah," kata sumber di Korindo. Warna bus yang dulunya abu-abu dicat ulang menjadi merah dan kuning. Penyejuk udara dan ban juga diganti dengan yang baru.

    Dalam perjalanannya, bus-bus itu terbukti bermasalah. Bahkan tabung salah satu bus meledak di stasiun pengisian gas Pinang Ranti, Jakarta Timur, pada 20 Oktober 2011. Akibat ledakan itu, seluruh bagian tengah bus hancur. Sedangkan Sugiarto, pegawai pengisi gas, terluka parah.

    Kini tampaknya kasus bus baru tapi bekas itu kembali terulang. Dari 90 unit bus gandeng baru yang dibeli dari Cina, sebagian telah rusak. (Baca: Bus Transjakarta Baru, Jokowi: Onderdil Rusak, Mesin Berkarat).

    TIM INVESTIGASI TEMPO


    Terpopuler:
    Dana Haji Diduga Dipakai Beli Mobil Pejabat
    Mengapa Bos Sritex Lukminto Masuk Islam?
    Pembuatan Akte Lahir, KTP, dan KK Kini Gratis
    Reaksi Anggito Saat Dilapori Korupsi Dana Haji
    Keluarga Masih Bungkam Soal Foto Asmirandah
    Kasus Sisca Yofie, Ini Kesaksian Istri Terdakwa
    Kantor Importir Bus Transjakarta tanpa Aktivitas


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.