Seteru Tarif, BLU Transjakarta Pernah Digugat  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bus Kota Terintegrasi Busway (BKTB) dirusak saat diamankan di Pos Polisi Museum Fatahillah, Jakarta, (11/2). Sebanyak empat BKTB dirusak oleh sejumlah supir yang menolak atas diberlakukannya trayek yang melewati jalur angkot KWK U11 dan KWK 01. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Bus Kota Terintegrasi Busway (BKTB) dirusak saat diamankan di Pos Polisi Museum Fatahillah, Jakarta, (11/2). Sebanyak empat BKTB dirusak oleh sejumlah supir yang menolak atas diberlakukannya trayek yang melewati jalur angkot KWK U11 dan KWK 01. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Bukan kali ini saja Transjakarta menjadi sorotan. Pada awal kemunculannya, moda transportasi umum hasil kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso itu pernah kisruh. Persoalannya pada perbedaan antara konsorsium operator dan Badan Layanan Umum Transjakarta mengenai tarif jalan per kilometer.

    Untuk menjalankan Koridor IV, V, VI, dan VII, BLU menunjuk langsung dua konsorsium untuk mengoperasikan bus. Dua konsorsium tersebut adalah PT Jakarta Trans Metropolitan (Mayasari, Steady Safe, Bianglala, dan PPD) untuk Koridor IV dan VI serta PT Jakarta Mega Trans (Mayasari, Steady Safe, PPD, dan Pahala Kencana) untuk Koridor V dan VII.

    Penunjukan langsung ini membuat ongkos pembayaran untuk pengoperasian bus didasarkan pada proses tawar-menawar. Konsorsium mengajukan tarif Rp 16.641 per kilometer untuk Koridor IV (Pulogadung-Dukuh atas), Rp 29.867 untuk Koridor V (Kampung Melayu-Ancol), Rp 16.619 untuk Koridor VI (Ragunan-Dukuh Atas), dan Rp 15.965 untuk Koridor VII (Kampung Rambutan-Kampung Melayu).

    Gugatan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.