Selama 7 Tahun, Warga Kapuk Muara Dikepung Air  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang warga membawa air bersih untuk kebutuhan sehari-hari di RT 02  RW 04 kelurahan penjaringan, Jakarta Utara, Minggu 22 Juli 2012. Sejak tahun 1995 kawasan tersebut terendam banjir rob dan hingga kini belum ada relokasi dari Pemda DKI. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Seorang warga membawa air bersih untuk kebutuhan sehari-hari di RT 02 RW 04 kelurahan penjaringan, Jakarta Utara, Minggu 22 Juli 2012. Sejak tahun 1995 kawasan tersebut terendam banjir rob dan hingga kini belum ada relokasi dari Pemda DKI. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO.CO , Jakarta:- Sudah lebih dari 5 hari, hujan tidak turun di Kapuk Muara. Sinar matahari terasa sangat terik, hawa panas pun menyengat karena wilayah kelurahan ini berlokasi di pinggir pantai. "Sepertinya sudah mau masuk musim kemarau," kata Arman (37), seorang nelayan yang tinggal sekitar 100 meter dari tempat pelelangan ikan Kapuk Muara dan bibir pantai.

    Namun meski cuaca sudah lebih bersahabat, tapi ratusan warga di RT 04, Kamal Muara masih harus hidup di tengah genangan air. Sebetulnya, banjir sudah jadi menu rutin warga di sana sejak puluhan tahun silam. "Setiap pertengahan bulan, ketika purnama kampung ini memang selalu kena banjir rob," ujar Arman. Biasanya, kata dia, banjir rob hanya menerjang selama 2 hari, setelah itu surut.

    Tapi sejak 2007 silam, kampung ini benar-benar terendam banjir. "Awalnya banjir rob, tapi setelah air masuk, tidak keluar lagi," kata Ahmadi ketua RT setempat. Sejak itulah, wilayah RT 04 dan sekitarnya tergenang. Jika tidak tahu sejarahnya, orang akan mengira kampung ini dibangun di atas rawa-rawa. "Padahal dulu tanah masih terlihat."

    Air yang terperangkap di pemukiman padat penduduk itu kemudian bercampur dengan sampah dan lumpur. Akibat terendam, warga pun berinisiatif membangun jembatan bambu, menggantikan gang setapak yang sudah tidak terlihat.

    "Sebagian warga yang mampu menguruk rumah agar air tidak masuk," kata Ahmadi. Rumah pria asli kampung itu pun kini sudah rendah karena 3 kali diuruk. "Plafonnya sudah dekat dengan kepala," ujar dia. Sedangkan warga yang tidak mampu terpaksa membangun tanggul di sekeliling rumah. Jika hujan sedikit, air meluap masuk ke rumah yang letaknya lebih rendah dari permukaan genangan.

    Sebetulnya, Ahmadi menuturkan, dia sudah berkali-kali mengajukan bantuan kepada pemerintah untuk membuatkan saluran air. "Ini banjir akibat tidak ada saluran drainase." Padahal kampung ini bersisian dengan Kali Tanjungan dan dekat dengan pantai. "Letaknya juga memang rendah dan berbentuk cekungan, jadi kalau air masuk ya susah keluar."

    Entah kenapa upaya Ahmadi untuk meminta bantuan pembuatan saluran pembuangan air sejak 2008 silam tidak ada tindak lanjut. "Capek saya harus ngomong ke siapa lagi." Uang operasional RT yang dia dapatkan sebesar Rp 900 ribu setahun habis untuk membuat jembatan bambu pengganti jalan setapak. "Mau bikin saluran air sendiri ya dananya tidak ada," kata Ketua RT yang telah menjabat lebih dari 10 tahun itu. Mayoritas warga di sana berprofesi nelayan atau buruh. "Boro-boro mau iuran untuk bikin drainase, sehari-hari saja sulit."

    Masalah lain yang timbul akibat genangan di antara pemukiman warga seluas sekitar 14 hektar itu, nyamuk dan tikus berkembang biak sangat pesat. Saat Tempo berkunjung ke sana Jumat, 14 Februari 2014, tikus berkeliaran begitu saja seakan tidak takut kepada manusia. Kulit pun gatal-gatal, diserang nyamuk yang agresif. Lalat berterbangan dan mengerubuti sampah bercampur aneka jenis kotoran.

    "Ya beginilah, karena sudah biasa jadi mungkin warga di sini jadi kebal penyakit," Ahmadi berseloroh. Namun dia rutin melakukan fogging untuk mengurangi nyamuk. "Kasihan banyak anak-anak, takutnya kena demam berdarah." Biaya untuk fogging yang mencapai Rp 500 ribu pun terpaksa dia rogoh dari kantongnya sendiri.

    Pada 2010 lalu, pemerintah kota Jakarta Utara membantu warga setempat membangun jalan setapak yang terbuat dari paving block. Tapi permukaan tanah di sana terus turun, akibatnya jalan tersebut kembali terendam. Kampung ini memang terletak di antara pabrik-pabrik besar. "Mungkin tanah turun terus karena air tanahnya disedot terus-terusan." Akibatnya air jadi semakin sulit mengalir dan berubah menjadi comberan.

    Sekretaris Kelurahan Kamal Muara Dwi Puji mengatakan wilayah RT 04 memang berbentuk seperti mangkok. "Dia adanya di cekungan, jadi memang selalu kebanjiran." Saat banjir besar awal tahun lalu, puluhan warga di sana terpaksa mengungsi ke kantor kelurahan karena genangan air naik hingga 1 meter. Saat banjir surut, genangan yang tersisa tingginya 30 centimeter lebih. Dia pernah mencoba mengukur kedalaman genangan. "Kaki saya terperosok ke dalam lumpur sampai hampir sepinggang."

    Dwi menyatakan pihak kelurahan juga sudah mengupayakan bantuan melalui Musyawarah Rencana Pembangunan Desa pada tahun lalu. Tapi usulan peninggian jalan di RT 04 ditolak. "Alasannya itu kewenangan pemerintah kota." Dia tidak tahu kapan pembangunan jalan dan drainase di sana akan dilakukan. "Tergantung pemerintah kota," katanya.

    Ketidakjelasan perbaikan lingkungan di Kamal Muara membuat Ahmadi, Arman dan warga lainnya, masih harus bersabar sampai tempat tinggal mereka bebas dari banjir. Entah sampai kapan genangan comberan bercampur sampah yang berbau busuk menghiasi kampung di ujung barat Teluk Jakarta itu.

    PRAGA UTAMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Pemberantasan Rasuah Indonesia di Hari Antikorupsi Sedunia

    Wajah Indonesia dalam upaya pemberantasan rasuah membaik saat Hari Antikorupsi Sedunia 2019. Inilah gelap terang Indeks Persepsi Korupsi di tanah air.