Hujan Sampai Akhir Pekan, Katulampa Posisi Siaga

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Iqbal Lubis

    TEMPO/Iqbal Lubis

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta Bambang Musyawardan mengatakan ketinggian air di Bendungan Katulampa siang ini berada dalam posisi siaga III (100 cm). Informasi ini, kata dia, sudah diinformasukan ke segenap daerah yang mungkin terdampak.

    "Kami sudah peringatkan ke lurah-lurah terkait," kata dia kepada Tempo Sabtu 22 Februari 2014. Pihaknya memperkirakan, air di Bogor akan sampai ke Jakarta mulai sore sampai malam nanti. "Sekitar pukul 19.00 sampai 21.00 nanti malam,"

    Menurut Bambang, pihaknya masih akan terus bersiaga hingga bulan Maret 2014 mendatang. Pasalnya, kata dia, BMKG telah memperkirakan bahwa curah hujan masih akan mengguyur dengan intensitas ringan hingga sedang sampai akhir Februari nanti. "Meskipun dengan intensitas yang lebih ringan dari sebelumnya," kata dia.

    Seperti hari-hari sebelumnya, kata Bambang, pihaknya terus memantau kondisi ketinggian air di Bendungan Katulampa dan Depok. Dia mengaku menambah personil untuk dapat melakukan pemantauan selama 24 jam sekaligus untuk menyiapkan personil di saat-saat emergency.

    Bambang menuturkan, pihaknya telah memperingatkan sejumlah lurah yang daerahnya dilalui aliran Sungai Ciliwung. Di antaranya, Kelurahan Kampung Melayu, Kelurahan Bidaracina dan Kelurahan Bukit Duri.

    NINIS CHAIRUNNISA
    Topik Terhangat
    #SaveRisma | Sadap Jokowi | Akal Sogok Akil Jokowi | Anggito |

    Berita Terpopuler
    Disadap, Jokowi Periksa Seluruh Isi Rumah Dinas 
    Kronologi Kasus Penyadapan Jokowi
    Pengamanan Jokowi, Pengawal Banyak Tak Berseragam
    Jokowi: Rusun Marunda Sempat Mangkrak 7 Tahun 
    Titik Banjir Jakarta Hari Ini 22 Februari

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.