Jika Panti Samuel Kotor, Sandal yang 'Bicara'  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Beberapa pengacara dari LBH Mawar Sharon mendampingi 10 anak korban penganiayaan dari Panti Asuhan The Samuel's Home untuk diperiksa di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (26/2). TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    Beberapa pengacara dari LBH Mawar Sharon mendampingi 10 anak korban penganiayaan dari Panti Asuhan The Samuel's Home untuk diperiksa di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (26/2). TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO, Jakarta - Sumini, 59 tahun, pembantu sekaligus pengasuh anak-anak panti, dan P, 13 tahun, remaja perempuan penghuni panti, juga bertugas mengasuh anak-anak lain di panti.

    Kepada wartawan, P menuturkan kehidupannya selama tinggal di panti. "Saya lupa tinggal di panti dari umur berapa, tapi waktu masih kecil," katanya. Dia juga tidak tahu asal-usulnya. "Dibilang cuma ada yang nitipin, tapi enggak tahu siapa."

    Menurut gadis remaja yang kini mengikuti program belajar paket B itu, kondisi panti memang pas-pasan. Anak-anak panti, kata dia, jarang mendapat uang jajan. "Kalau dikasih paling Rp 2.000 buat anak-anak yang sekolah SD, kalau seumuran saya Rp 5.000."

    Sehari-hari P dengan 28 orang lainnya tinggal di panti dan jarang keluar. "Keluar hanya saat sekolah, itu juga diantar-jemput oleh Ayah dan Bunda," katanya. Ayah dan Bunda merupakan panggilan anak-anak panti kepada Samuel dan Yani, pasangan suami-istri pemilik Panti Asuhan Samuel. (Baca: Polisi Kantongi Hasil Visum Anak Panti Samuel)

    Sehari-hari, kata P, mereka makan makanan yang dimasak Sumini, sang pengasuh dan pengurus panti. Menu makanan mereka paling sering telur dadar atau ceplok, kornet, mi instan, atau nasi goreng. "Makan sayur atau daging jarang."

    Semua bahan makanan tersedia di panti. "Tapi kami lebih senang makan mi instan, soalnya makan nasi enggak enak, berasnya bau dan berkutu."

    P mengatakan, jika tidak bersekolah, para penghuni panti dilarang keluar. Mereka lebih sering menonton televisi dan bermain. "Karena bosan di dalam rumah terus, jadinya anak-anak yang kecil sering berantem, ribut terus, saya jadi enggak betah," ujarnya. "Kalau sudah berantem memang suka kasar, ada yang jambak-jambakan atau memukul." (Baca: 10 Anak Panti Samuel Bersaksi di Polda)

    Mereka juga mendapat tugas rutin. Anak-anak remaja mendapat tugas membantu Sumini mengerjakan pekerjaan rumah tangga. "Saya kebagian cuci piring, cuci baju, sama ngurus bayi," dia menjelaskan. Tugas-tugas itu wajib dikerjakan. "Kalau panti berantakan dan Ayah atau Bunda datang, mereka pasti marah."

    Menurut P, Samuel kerap memberi hukuman jika panti dalam keadaan kotor. "Tangan saya pernah dipukul pakai sandal beberapa kali gara-gara rumah kotor."

    Pasangan suami-istri itu tidak tinggal bersama anak-anak panti. "Ke panti biasanya seminggu tiga kali, tapi setiap hari mereka antar-jemput anak-anak sekolah walaupun tidak selalu mampir dan masuk ke dalam rumah."

    Anak-anak panti hampir tidak pernah diajak jalan-jalan atau rekreasi. "Enggak pernah, di rumah terus," ujar P. Satu-satunya hiburan buat mereka adalah televisi. "Dulu senang karena sering ada tamu, donatur yang datang bawa makanan, baju, mainan." Namun, menurut P, para donatur itu sudah jarang datang sejak Natal tahun 2012. "Habis itu sepi."

    P mengatakan enggan kembali ke panti. Namun dia tidak mau berpisah dengan teman-temannya sesama penghuni panti. Dia sendiri belum terlalu mengerti masalah yang menimpa Panti Asuhan Samuel. "Saya kangen teman-teman," ujarnya. Namun, dia berharap, jika ditempatkan di panti asuhan lain, dirinya tidak dipisahkan dari teman-temannya. "Mudah-mudahan bareng-bareng terus."

    Panti Asuhan Samuel mendapat sorotan karena diduga melakukan penyekapan, penelantaran, dan kekerasan terhadap anak-anak penghuni yang berjumlah 28 orang. Hal ini diketahui setelah tujuh remaja penghuni panti kabur dan mengadu ke Lembaga Bantuan Hukum Mawar Saron. LBH pun melaporkan dugaan ini ke Polda Metro Jaya. (Baca: Panti Asuhan Samuel Gugat Komnas Perlindungan Anak dan Bakal Dituntut Panti Samuel, Ini Kata Komnas PA)

    Di sisi lain, sejumlah warga di sekitar panti menemukan kejanggalan. Mereka melihat ada anak panti berusia sekolah dasar yang mengamen di kawasan Serpong. Menduga ada ketidakberesan, warga mengadu ke Komisi Nasional Perlindungan Anak. Ketua Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait lalu melakukan investigasi pada 11 Februari 2014. Setelah yakin ada perlakuan buruk terhadap anak-anak di panti, Arist mengambil para penghuni dan menyerahkan mereka ke Kementerian Sosial pada 20 Februari lalu.

    PRAGA UTAMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Salip Menyalip Tim Sepak Bola Putra Indonesia Versus Vietnam

    Timnas U-23 Indonesia versus Vietnam berlangsung di laga final SEA Games 2019. Terakhir sepak bola putra meraih emas di SEA Games 1991 di Filipina.