Ahok Ragukan Data BPS Soal 10 Kelurahan Rawan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sebagian besar pengungsipun kemudian mengikuti Ahok untuk melihat rusun menggunakan dua bus berpendingin.Ahok.org

    Sebagian besar pengungsipun kemudian mengikuti Ahok untuk melihat rusun menggunakan dua bus berpendingin.Ahok.org

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama meragukan hasil indeks potensi kerawanan sosial dan indeks kepuasan masyarakat yang dilansir oleh Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta. Lembaga ini mencatat ada sepuluh kelurahan di DKI dengan tingkat kerawanan sosial paling tinggi.

    "Hasil itu harus dilihat dulu dengan kinerja lurah dan camat yang ada," kata Ahok di Balai Kota, Senin, 3 Maret 2014. Sebab, kata Ahok, ada daerah yang rawan tapi tingkat kepuasan masyarakatnya tinggi.  

    Hanya, dia tidak menampik jika ada yang seperti itu. "Camat dan lurahnya yang sama-sama gendeng," ujarnya. Selain itu, ada juga daerah yang tingkat kepuasannya rendah padahal pemerintah kotanya sudah bekerja dengan baik.

    Beberapa di antaranya adalah masyarakat yang tinggal di daerah Tanah Tinggi, Jakarta Pusat, dan Pluit, Jakarta Utara. Perlu diketahui, dua daerah itu pernah dilakukan penggusuran. Selain itu, kata Ahok, ada juga daerah yang diberikan nilai baik semua oleh wali kota setempat.

    Namun ada juga daerah yang diberi nilai rendah oleh wali kota setempat sesuai dengan kinerjanya.   "Saya tahu yang mana kerjanya beres dan tidak beres. Nanti akan kami kombinasikan," kata mantan Bupati Belitung Timur ini.

    REZA ADITYA

    Terpopuler
    Ruhut Sitompul: Jokowi Klemar-klemer Kok Nyapres? 
    Film Ini Menampilkan Yesus yang Seksi
    Indra Sjafri: Fisik Pemain Timnas U-19 Dahsyat
    Di Balik Kisruh PSSI: Ada Rebutan Bisnis Hak Siar 
    Pemerintah Ambil Alih Sertifikasi Halal dari MUI  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.