Human Trafficking, Muncikari Kalijodo Ditangkap

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Pekerja Seks Komersial (PSK). edu.qq.com

    Ilustrasi Pekerja Seks Komersial (PSK). edu.qq.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepolisian Daerah Metro Jaya menangkap dua tersangka perdagangan manusia (human trafficking) untuk dipekerjakan sebagai pekerja seks komersial di kawasan prostitusi Kalijodo, Penjaringan, Jakarta Utara. Dua tersangka, Dedi Utomo dan Susanti, yang berprofesi sebagai muncikari menggunakan jasa perantara untuk menjerat korbannya.

    "Dengan menggunakan jasa perantara, pelaku mendapat pekerja dari wilayah Cianjur dan sekitarnya," kata Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah  Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto di Markas Kepolisian Daerah Metro Jaya, Jakarta, Kamis, 6 Maret 2014.

    Rikwanto mengatakan ada enam orang yang menjadi korban dengan rentang usia 17-24 tahun. Para korban mengaku awalnya ditawari bekerja sebagai penjaga toko di Jakarta. "Saat tiba di Jakarta, para korban ternyata ditampung di tempat pelaku yang memiliki usaha kafe," kata Rikwanto. (Baca: 40 WNI Diduga Korban Sindikat Pelacuran Malaysia)

    Para korban dipekerjakan di Kafe Mawar Sari oleh kedua tersangka dengan imbalan Rp 150 ribu dari setiap pria hidung belang yang dilayaninya. "Dari jumlah tersebut, sebesar Rp 100 ribu diperuntukkan bagi para pelaku sebagai muncikari," kata Rikwanto. Sisanya diberikan kepada para korban yang dibayarkan tiga bulan sekali. "Ancaman pidana kurungan mencapai 15 tahun," kata Rikwanto.

    ISMI DAMAYANTI

    Berita Terpopuler
    Curhat Chris dari Panti Samuel: Ayah Bunda Galak
    Hujan Proyektil Warnai Ledakan Gudang Amunisi
    Kantor Istri Penyekap Pegawai di DPR Terkunci
    Teriaki Sitok Buayawan, Mahasiswa UI Diperiksa


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Terobosan Nadiem di Pendidikan, Termasuk Menghapus Ujian Nasional

    Nadiem Makarim mengumumkan empat agenda utama yang dia sebut "Merdeka Belajar". Langkah pertama Nadiem adalah rencana menghapus ujian nasional.