Ayah Ade Sara: Masa Depan Kami Hilang  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Akun Twitter Ahmad Imam Al-Hafitd tersangka pembunuh Ade  Sara. Twitter.com

    Akun Twitter Ahmad Imam Al-Hafitd tersangka pembunuh Ade Sara. Twitter.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Ayah Ade Sara Angelina, Suroto, mengaku sulit membayangkan siksaan keji yang dilakukan Ahmad Imam Al Hafitd dan Assyifa Ramadhani terhadap anak semata wayangnya itu. Kesedihan semakin menjadi saat mengetahui putrinya meninggal dengan cara mengenaskan. Saat ditemukan, menurut Suroto, wajah Ade Sara sudah menghitam, mata melotot, dan lidah menjulur.

    "Masa depan kami hilang," kata Suroto saat dihubungi Tempo, Senin, 10 Maret 2014. Lantaran Ade Sara adalah anak tunggal, maka wanita 18 tahun itu menjadi tumpuan masa depan Suroto saat tua nanti. Namun harapan itu kini buyar. "Kalau berpikir secara manusiawi, kami ingin membalas dendam perbuatan mereka."

    Namun, Suroto menjelaskan, keluarga telah memaafkan apa yang dilakukan Hafitd dan Assyifa. Menurut dia, pemaafan yang diberikannya merupakan pengejawantahan perintah Tuhan. Kendati telah memaafkan, Suroto menegaskan hukum tetap harus ditegakkan. "Bukan berarti memaafkan lalu proses hukum selesai," katanya.

    Bahkan, menurut dia, tidak boleh ada pengurangan hukuman atas kedua pelaku, serta tidak boleh ada trik yang dilakukan untuk meringankan mereka. "Kalau dapat keringanan, bagaimana mereka dapat pelajaran dari tindakan mereka?" katanya.

    AMIRULLAH

    Topik terhangat:

    Ade Sara
    | Malaysia Airlines | Kasus Century | Jokowi | Anas Urbaningrum

    Berita terpopuler lainnya:
    Potongan Bodi Malaysia Airlines Ditemukan 

    Pilot Boeing Sempat Kontak Pilot Malaysia Airlines 

    Ada 'Eks Tim Sukses Jokowi' Bermain di Busway Karatan? 

    Istri Penumpang Malaysia Airlines Yakin Suaminya Selamat 

    Ahsan/Hendra Akhiri Puasa Gelar di All England


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.