KPAI Kaji Usulan Kak Seto Soal Jam Sekolah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anak-anak warga relokasi korban banjir bantaran Kali Sentiong saat berangkat sekolah di Rumah Susun Sewa Komarudin, Kelurahan Pulogebang, Kecamatan Cakung, Jakarta (24/2). TEMPO/Subekti.

    Anak-anak warga relokasi korban banjir bantaran Kali Sentiong saat berangkat sekolah di Rumah Susun Sewa Komarudin, Kelurahan Pulogebang, Kecamatan Cakung, Jakarta (24/2). TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta: Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencermati usulan dari Seto Mulyadi atau kerap dipanggil Kak Seto untuk merevisi jam masuk anak sekolah. "Usulan ini apakah sesuai dengan Undang-Undang Perlindungan Anak atau tidak. Kami masih mengkajinya," kata Wakil Ketua KPAI, Budiharjo, di kantornya, Jumat, 28 Maret 2014.

    Ia mengaku maklum dengan pemikiran dari Kak Seto yang menginginkan jam masuk sekolah diubah menjadi pukul 09.00 pagi. "Mesti ditinjau kembali. Masuk pukul 06.30 itu dirasa tidak efektif dan tidak nyaman bagi anak sekolah," ujarnya.

    Menurut dia, pihaknya tak sembarang memutuskan. Sebab, kebijakan penerapan jam masuk sekolah itu kebijakan makro. "Awalnya kebijakan itu salah satu cara untuk mengurangi kemacetan di Jakarta," ucapnya.

    Sebelumnya, Kak Seto menganggap jam masuk sekolah terlalu kepagian. Dengan jam masuk pukul 06.30 WIB, anak layaknya robot. "Bagi anak cukup berat kalau masuk jam segitu. Bahkan untuk sarapan pun sulit," katanya.

    Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, pun cenderung setuju dengan usul Kak Seto. Ia pun mengutus Kepala Dinas Pendidikan untuk mengkaji kebijakan jam masuk sekolah. (Baca: Ahok Kaji Jam Masuk Sekolah bagi Pelajar)

    ERWAN HERMAWAN

    Berita Lainnya:
    Ahok: PNS DKI Banyak Nganggur  
    Daftar Biro Haji dan Umrah Bodong
    Berikut Detail Biaya Wajar Umrah
    Ternyata, Pemilih Ibu-ibu Tak Suka Rhoma Irama  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.