Penolakan Ahok Jadi Gubernur Dinilai Tak Relevan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Gebenur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Tempo/Dian Triyuli Handoko

    Wakil Gebenur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Tempo/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO , Jakarta: Direktur Eksekutif The Wahid Institute, Ahmad Suaedy, mengatakan penolakan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menjadi gubernur DKI Jakarta tidak relevan. Menurutnya, Ahok akan otomatis menjadi gubernur karena sudah diatur dalam undang-undang.


    "Tidak relevan karena dia kan sebelumnya sudah dipilih, dan sesuai undang-undang juga sudah pasti dia akan naik jabatan," katanya saat dihubungi, Sabtu, 29 Maret 2014.

    Sebelumnya, muncul penolakan kalau Ahok menjadi gubernur DKI Jakarta. Hal itu bisa terjadi karena gubernur saat ini, Joko Widodo, tengah bersaing dalam pemilihan presiden 2014. Jika terpilih, Jokowi akan menyerahkan tongkat kepemimpinan Ibu Kota kepada wakilnya tersebut.

    Ahmad mengatakan, berdasar konstitusi, tidak ada yang perlu diperdebatkan soal Ahok akan memimpin Jakarta. Apalagi, dia sebelumnya terpilih menjadi wakil gubernur melalui proses pemilihan langsung oleh rakyat. Karena itu, dia melihat jika penolakan tersebut merupakan dinamika perpolitikan yang lazim terjadi. (Baca: PKS: Survei Menolak Ahok Bukan Sikap Resmi )

    Terkait pemimpin nonmuslim, Ahmad mengatakan terjadi perbedaan pendapat di kalangan orang Islam sendiri. Menurutnya, tidak semua orang Islam menolak jika harus dipimpin oleh orang yang tidak seagama dengannya. Dia juga mengatakan banyak penganut Islam yang tidak mempermasalahkan hal tersebut selama pemimpin itu bisa memberikan keadilan bagi warganya. (Baca juga: Lulung: Jadi Gubernur, Ahok Harus Siap Dikritik)

    DIMAS SIREGAR


    Terpopuler:
    Akhirnya Polisi Temukan Bayi dan Penculiknya
    Penculik Bayi Bandung Sempat Mau Bunuh Diri
    Ke Suami, Penculik Mengaku Baru Lahirkan Bayi


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.