Kajian Pembersihan Monas Dilakukan Sejak 2011

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pedagang menjajakan dagangannya di dalam perkarangan taman Monumen Nasional, Jakarta, (6/1). Taman Monas menjadi rusak dikarenakan tidak adanya rasa saling menjaga akan keindahan taman bagi sejumlah pengunjung dan pedagang. Tempo/Tony Hartawan

    Pedagang menjajakan dagangannya di dalam perkarangan taman Monumen Nasional, Jakarta, (6/1). Taman Monas menjadi rusak dikarenakan tidak adanya rasa saling menjaga akan keindahan taman bagi sejumlah pengunjung dan pedagang. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengkajian teknis pembersihan Monumen Nasional sudah dilakukan sejak tiga tahun lalu. Kala itu, pengkajian dilakukan oleh PT Kaercher dari Jerman. "Kajiannya dari 2011, waktu itu akan dilaksanakan akhir tahun, tapi batal," ujar Kepala Unit Pelaksana Teknis Monas, Rini Haryani, Jumat, 4 April 2014.

    Rini menyatakan pembatalan pembersihan Monas terjadi karena bertepatan dengan musim hujan. "Setelah itu, baru saling kontak lagi untuk pembersihan sekarang," ujarnya.

    Akhirnya rencana pembersihan tersebut terwujud Mei mendatang. Setelah tak kunjung dibersihkan selama 22 tahun, PT Kaercher siap mengkilapkan tugu berlapis marmer itu. Menurut Rini, PT Kaercher siap menurunkan tiga orang ahlinya untuk bergelantung membersihkan bagian luar Monas.

    "Harus hati-hati, tidak bisa sembarangan karena takutnya marmernya terkelupas," ujarnya saat ditanya alasan memilih PT Kaercher sebagai partner membersihkan Monas. Selain itu, PT Kaercher juga dianggap punya reputasi bagus dan menaruh minat akan hal ini sejak tiga tahun silam.

    Terkait biaya, Rini tak mau merinci. "Saya gak bisa menyebut nilai berapa ya, tapi kami harus punya skala prioritas dalam membersihkan monas. Lagipula kami lihat urgensinya juga, mendesak atau tidak bersihkan luar,"ujarnya. Namun, sebagai gambaran, renovasi Monas menelan angka Rp 4 milyar pada tahun 2013.

    Monas dibuka untuk umum pertama kali pada 12 Juli 1975. Monumen setinggi 132 meter itu dibangun selama 14 tahun sejak 17 Agustus 1961. Monumen ini digagas Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Menurutnya, Indonesia harus memiliki sebuah tugu yang bisa melambangkan perjuangan pada masa revolusi. Soekarno ingin Indonesia punya tugu seperti Menara Eiffel di Paris, Perancis.(BAca : Kenapa Monas Tak Dibersihkan Seperempat Abad?)

    Dari 51 rancangan tugu, terpilih desain arsitek Frederich Silaban dan RM Soedarsono yang dianggap merepresentasikan karakter bangsa. Sebuah tugu berselaput marmer dengan lidah api emas sebagai puncaknya.

    Lidah emas yang ada di puncak Monas sebenarnya terbuat dari bahan baku perunggu seberat 14,5 ton. Namun permukaannya dilapisi emas seberat 35 kilogram. Lidah api ini merupakan simbol perjuangan rakyat yang terus berkobar selama masa kemerdekaan.

    Atas usulan Soekarno, lidah api ini disangga oleh rangka bangun berbentuk lingga dan yoni. Di dasar bangunan terdapat rangka cawan setinggi 17 meter, dan bangunan di dalam cawan setinggi 8 meter. Luas bangunan yang dijadikan museum sejarah monas ini mencapai 45x45 meter. Ini merupakan usulan RM Soedarsono yang menyesuaikan dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

    M. ANDI PERDANA

    Berita Terpopuler
    Jokowi: Kampung Deret Petogogan Mirip Apartemen 
    Lagi, Ahok Nyaris 'Bayar Parkir di Garasi Sendiri' 
    Rekonstruksi Pembunuhan Ade Sara, Hafitd Murung
    Tabrak Lari, Pengendara Honda Jazz Belum Ditangkap


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.