Tiga Tahun untuk Benahi Wesel dan Sinyal KRL  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah kereta mengantri di Stasiun Pasar Minggu, Jakarta, (4/4). Akibat kerusakan pantograf di Stasiun Universitas Indonesia, sejumlah penumpang mengembalikan tiket dan memilih transportasi lain. Tempo/Dian Triyuli Handoko

    Sejumlah kereta mengantri di Stasiun Pasar Minggu, Jakarta, (4/4). Akibat kerusakan pantograf di Stasiun Universitas Indonesia, sejumlah penumpang mengembalikan tiket dan memilih transportasi lain. Tempo/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Kereta Api Indonesia (KAI) mulai memperbaiki sistem wesel dan persinyalan kereta di wilayah Jabodetabek. Perbaikan akan dilakukan di empat stasiun yang memiliki frekuensi perjalanan kereta tinggi, yaitu Stasiun Manggarai, Gambir, Jatinegara, dan Kota.

    Juru bicara PT KAI, Sugeng Priyono, mengatakan proyek perbaikan sinyal dan wesel itu sudah dilelang pada 2013 lalu. "Sekarang juga secara bertahap sedang dikerjakan, tetapi akan makan waktu lama," katanya ketika dihubungi Tempo, Senin, 7 April 2014. (Baca: KAI Diminta Serius Benahi KRL Jabodetabek)

    Diperkirakan perbaikan sistem wesel dan sinyal berlangsung minimal dua tahun. Soalnya, ujar dia, operasional kereta harus tetap berjalan seperti biasa meskipun sedang ada perawatan dan perbaikan. (Baca: Berulang Kali Rusak, KAI Baru Mau Evaluasi)

    Juru bicara Daerah Operasi 1 PT KAI, Agus Komarudin, mengatakan perbaikan wesel dan sinyal dilakukan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2011 tentang Penugasan kepada PT KAI. Peraturan itu menginstruksikan PT KAI menyelenggarakan sarana dan prasarana kereta bandara dan jalur lingkar Jakarta- Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi.

    "Ada target mengangkut 1,2 juta penumpang per hari di Jabodetabek pada 2018, jadi sarana dan prasarananya harus ditambah," kata Agus. Sejauh ini PT KAI melalui anak usahanya PT KAI Commuter Jabodetabek telah membeli 180 set kereta dari Jepang. Kereta bekas itu dibeli Rp 1 miliar per buah.

    Saat ini baru dua rangkaian yang dioperasikan di lintas Bogor-Jakarta Kota dan Bogor-Tanah Abang-Jatinegara. Sisanya masih dirakit dan menunggu proses sertifikasinya rampung. (Baca: Roker Usul Ada Partai Anti-Pantograf Nyangkut)

    Agus berharap beroperasinya kereta seri 205 akan membuat perjalanan kereta lebih lancar. Masalahnya, masih sering terjadi kerusakan pada kereta lama. Salah satunya kerusakan pantograf seperti yang terjadi di Stasiun Karet, Jakarta Pusat, Senin, 7 April 2014. Pantograf adalah alat yang berfungsi mengalirkan listrik dari kabel di atas kereta ke mesin-mesin kereta.

    Menurut Agus, perawatan pantograf dilakukan bersamaan dengan perawatan kereta. Dia tak memungkiri usia alat yang tua membuatnya rentan rusak. Selama ini pemeriksaan meliputi kondisi alat dan gesekan antara pantograf dan kabel listrik aliran atas. "Tapi dalam perjalanan kadang ada benda yang tersangkut," ujarnya.

    ANGGRITA DESYANI 

    Terpopuler Metro:
    Bogor Hujan Lebat, Besok Sebagian Jakarta Banjir
    Kasus Mirip Ade Sara Kini Menimpa Sugiati
    Banjir 1,5 Meter, Warga Kampung Pulo Santai  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Uji Praktik SIM dengan Sistem Elekronik atau e-Drives

    Ditlantas Polda Metro Jaya menerapkan uji praktik SIM dengan sistem baru, yaitu electronic driving test system atau disebut juga e-Drives.