Soal Korupsi Busway, Jokowi: Yang Lain Ngapain?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo naik bus menuju tempat kerjanya pada hari Jum'at atau One Day No Car (14/3). Biasanya Jokowi naik sepeda menuju kantornya. ANTARA/Dhoni Setiawan

    Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo naik bus menuju tempat kerjanya pada hari Jum'at atau One Day No Car (14/3). Biasanya Jokowi naik sepeda menuju kantornya. ANTARA/Dhoni Setiawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengakui pengawasan pengadaan bus Transjakarta luput dari Inspektorat. "Itu lolos," katanya di Balai Kota, Senin, 7 April 2014.

    Menurut dia, tugas Inspektorat adalah manajemen kontrol. Namun dia memahami Inspektorat harus mengawasi puluhan ribu mata anggaran. "Inspektorat juga ngawasi 57 ribu, enggak mungkin gini," ujarnya dengan ekspresi melotot. "Meskipun stafnya banyak sekali."

    Jokowi sempat mengomel ketika ditanya lagi soal kasus ini. "Apa lagi? Tanya apa lagi? Dipikir kami semua ngikutin? Yang lain ngapain? Tugasnya dinas apa? Wali kota apa? Siapa, sih, manajemen perencanaan dan manajemen controling?"

    Seperti diberitakan sebelumnya, pengadaan bus Transjakarta senilai Rp 1 triliun bermasalah. Sejumlah bus produksi Cina itu ditemukan cacat onderdil. Hingga kini sudah dua pejabat Dinas Perhubungan ditetapkan sebagai tersangka.

    Mereka adalah Dradjat Adhyaksa, Sekretaris Dinas Perhubungan; dan Setyo, Kepala Angkutan Perairan dan Kelautan. Masing-masing pejabat pembuat komitmen dan kepala pengadaan barang/jasa dalam proyek tersebut. (Baca: Ada Eks Tim Sukses Jokowi Bermain di Busway Karatan? dan Udar Pristono Diperiksa Kejaksaan, Ahok:Jalani Saja)

    ATMI PERTIWI

    Berita Lain:
    KAI Diminta Serius Benahi KRL Jabodetabek
    Berulang Kali Rusak, KAI Baru Mau Evaluasi
    Roker Usul Ada Partai Anti-Pantograf Nyangkut


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.