Bocah Korban Pelecehan: Stop, Please Don't Do That  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    Ilustrasi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Mental dan fisik korban pelecehan seksual di taman kanak-kanak internasional di Jakarta terganggu setelah. "Juga terinfeksi bakteri dan herpes di bagian duburnya," kata ibundanya di Jakarta, Senin, 14 April 2014.

    Meski para pelaku sudah teridentifikasi dan ditangkap polisi, dia masih cemas. Saat ini kondisi anaknya memprihatinkan. "Duburnya membusuk gara-gara infeksi kuman dan herpes," ujarnya. Bahkan secara psikologis M pun terguncang dan trauma. "Sejak bercerita kepada saya kalau dia kerap dicabuli, dia enggan bersekolah. Sedangkan di rumah, putranya juga enggan memakai celana. Kalau pakai celana dia ngompol terus, dan setiap malam mengigau dengan kata-kata stop, please don't do that, go away from me!" ujar P.

    Infeksi yang diderita anaknya diketahui setelah pada 27 Maret 2014 M menderita demam tinggi hingga suhu tubuhnya 38 derajat Celsius. Berdasarkan pemeriksaan darah dan visum di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, dokter menyatakan dia mengalami infeksi. "Setiap malam dia kesakitan, bagian pantatnya juga membengkak," kata sang ibu. Sejak pemeriksaan itu, setidaknya tujuh butir obat harus dikonsumsi bocah ini.

    Namun, yang mengherankan, menurut dia, infeksi herpes yang diderita anaknya tidak ditemukan pada hasil pemeriksaan darah dan cairan kelamin para tersangka oleh polisi. "Di tersangka Awan dan Agung hanya ditemukan kuman yang juga menginfeksi anak saya, tapi mereka tidak menderita herpes." Ia menduga ada pelaku lain yang belum teridentifikasi.

    Tidak hanya itu, dia bahkan curiga dan khawatir ada korban lain di sekolah itu selain anaknya. "Saya minta pihak sekolah ikut menyelidiki kasus ini, dan buat para ibu saya imbau untuk memeriksakan anaknya dan lebih teliti jika anak menunjukkan keanehan perilaku." (Baca : Siswa TK Internasional Diduga Disodomi di Sekolah)

    P mengetahui kasus pelecehan seksual anaknya pada 21 Maret 2014. Saat itu anaknya, yang telah menunjukkan gelagat mencurigakan selama beberapa hari sebelumnya, bercerita bahwa di sekolah dia dipukuli dan dilecehkan oleh sejumlah orang. Para pelaku, menirukan cerita anaknya, terdiri atas dua orang pria dan seorang perempuan berusia 28-30 tahun. Salah satu di antara mereka adalah petugas kebersihan sekolah.

    Baru pada 24 Maret 2014 P melaporkan kasus ini kepada polisi. Polisi kemudian menangkap dua pelaku pada 3 April 2014, yang teridentifikasi bernama Agun dan Afriska, di tempat terpisah. Saat ditangkap, Agun malah mengatakan kenapa Awan, salah satu temannya, tidak ikut ditangkap.

    Berbekal "nyanyian" Agun, polisi menangkap Awan yang. Setelah sempat menyangkal, Awan akhirnya mengakui telah menyodomi korban. Namun, karena kurangnya bukti, polisi melepaskan Afriska pada 4 April 2014. Adapun Agun dan Awan ditahan dan telah ditetapkan menjadi tersangka.

    PRAGA UTAMA

    Berita Terpopuler Lain
    Bayi Meninggal di Pesawat Lion Air
    Tekuk Chong Wei, Simon Juara Singapura Terbuka
    Tekuk City, Gerrard Berkukuh Livepool Belum Aman


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.