Psikolog: Pelaku Pelecehan Belum Tentu Pedofil  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivis yang peduli terhadap kekerasan terhadap perempuan dan anak melakukan aksi di Bunderan Hotel Indonesia, Jakarta, Selasa (29/1). Mereka menuntut adanya perhatian lebih dari pemerintah dan elemen masyarakat terhadap kejahatan seksual pada anak dan perempuan. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Aktivis yang peduli terhadap kekerasan terhadap perempuan dan anak melakukan aksi di Bunderan Hotel Indonesia, Jakarta, Selasa (29/1). Mereka menuntut adanya perhatian lebih dari pemerintah dan elemen masyarakat terhadap kejahatan seksual pada anak dan perempuan. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat kriminal dan psikolog forensik Reza Indragiri Amriel mengatakan dua pelaku pelecehan seksual terhadap seorang siswa taman kanak-kanak international di Jakarta belum tentu pengidap pedofilia.

    Pedofilia, menurut Reza, adalah suatu kondisi saat seseorang memiliki ketertarikan seksual terhadap anak di bawah umur atau belum akil balig. Seorang pedofil tak akan tertarik pada orang dewasa. "Hati-hati dalam menggunakan istilah pedofilia, karena itu butuh pemeriksaan psikologis dahulu. Tidak semua pelaku pelecehan kepada anak-anak adalah pedofil,"ujar Reza kepada Tempo, Selasa, 15 April 2014.

    Sebelumnya, seorang siswa laki-laki, 5 tahun, menjadi korban pelecehan seksual yang dilakukan dua petugas kebersihan di sekolah itu. Reza mengatakan kedua pelaku tersebut bisa saja melakukan pelecehan seksual kepada korban karena keterbatasan, bukan kelainan orientasi seksual yang menjadi dasar pedofil. Keterbatasan ini adalah ketidakmampuan memenuhi hasrat seksual.

    Reza menjelaskan, seseorang yang tak mampu memenuhi hasrat seksualnya ketika hasrat itu begitu menggebu-gebu cenderung melakukan tindakan menyimpang. Tindakan menyimpang ini, kata Reza, bisa berupa melakukan pelecehan kepada anak-anak yang umumnya tak bisa atau tak akan melawan.(Baca : Pelecehan Anak TK, Sekolah Dinilai Kebobolan Terima Pegawai)

    "Mereka bisa saja melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak karena tak mampu membayar jasa prostitusi. Atau, di satu sisi, karena takut melakukan pelecehan kepada orang dewasa yang cenderung akan melawan," ujarnya.

    Dari kondisi kedua pelaku, Reza menduga mereka bukan pedofil. Kedua pelaku hanyalah petugas kebersihan yang umumnya berpenghasilan rendah dan tak punya pasangan untuk memenuhi hasrat seksual. "Saya akui dugaan saya bukan berdasar data. Tapi, kalau dugaan saya benar, mereka tak bisa disebut sebagai pedofil, tetapi pelaku kejahatan seksual. Itu saja," ujarnya.

    Reza menuturkan tak sulit untuk melihat apakah kedua pelaku benar-benar pedofil atau tidak. Caranya, hanya cukup dengan menunjukkan video porno dewasa kepada mereka. "Kalau mereka bereaksi, berarti mereka bukan penderita pedofilia."

    Sebelumnya, aktivis perlindungan anak Arist Merdeka Sirait serta Kak Seto Mulyadi yakin betul bahwa kedua pelaku adalah pengidap pedofilia.

    ISTMAN MP

    Berita Terpopuler

    Siswa TK Internasional Diduga Alami Pelecehan
    Modus Pelecehan Seksual Murid TK Internasional
    Bocah Korban Pelecehan: Stop, Please Don't Do That 
    Pelaku Sodomi Murid TK Internasional Berkomplot


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Pemberantasan Rasuah Indonesia di Hari Antikorupsi Sedunia

    Wajah Indonesia dalam upaya pemberantasan rasuah membaik saat Hari Antikorupsi Sedunia 2019. Inilah gelap terang Indeks Persepsi Korupsi di tanah air.