'JIS Sebut Kasus Penyerangan, Bukan Pelecehan Seksual'  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah petugas keamanan memeriksa kendaraan di sekolah Jakarta International School (JIS), Jakarta, Selasa (15/4). Para pelaku yang berkomplot dalam melakukan aksi bejat ini, motifnya sebatas untuk kepuasan seksual. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Sejumlah petugas keamanan memeriksa kendaraan di sekolah Jakarta International School (JIS), Jakarta, Selasa (15/4). Para pelaku yang berkomplot dalam melakukan aksi bejat ini, motifnya sebatas untuk kepuasan seksual. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Ibu korban pelecehan seksual di Taman Kanak-kanak Jakarta International School (JIS) kecewa dengan sikap JIS yang terkesan menutupi kasus yang menimpa anaknya. Ibu korban mengaku, sehari setelah perkara ini terungkap ke publik, pihak sekolah mengirimkan surat edaran melalui e-mail. (Baca: Konsultan JIS Curhat Citra Sekolah Terpuruk)

    Di dalam surat edaran itu, JIS menyatakan kasus yang terjadi terhadap putranya adalah penyerangan (assault), bukan pelecehan seksual. "Jadi penjelasan sekolah ke siswa dan orang tua lain hanya kasus assault terhadap murid, bukan kasus kejahatan seksual," kata ibu korban di Griya Dewantara, Fatmawati, Jakarta Selatan, Sabtu, 19 April 2014.

    Dengan penggunaan istilah penyerangan, menurut ibu korban, orang tua siswa menganggap "remeh" kasus ini karena sekadar dimaknai terjadi pemukulan atau penganiayaan. (Baca: Efek Domino Pelecehan di TK JIS bagi Sekolah Lain)

    Menurut ibu korban, para orang tua siswa baru benar-benar terkejut setelah dia menggelar pertemuan di kawasan Pondok Indah pada Selasa, 15 April 2014. "Di sana saya beberkan kejadian yang menimpa anak saya," katanya. Saat menceritakan kejadian itu kepada orang tua lainnya, ibu korban menuturkan, banyak ibu lain yang terkejut sampai menangis. "Bahkan ada yang pingsan." Mereka, kata dia, tak mengira kasusnya separah ini. (Baca: Ada Korban Lain di TK JIS, Polisi Jemput Bola)

    Kasus kekerasan seksual yang menimpa bocah Taman Kanak-kanak JIS yang baru berusia 5 tahun ini diduga dilakukan secara terencana dan berkelompok. Polisi telah menetapkan tiga tersangka, dan ada dua terduga pelaku lain telah diperiksa. Psikolog forensik Reza Indragiri Amriel mengatakan, dengan banyaknya jumlah tersangka, kemungkinan adanya korban lain semakin besar. "Kelompok ini tidak hanya mengincar satu anak sebagai korbannya."

    Sekretaris Jenderal Komisi Perlindungan Anak Indonesia Erlinda mengatakan sekolah terkesan menutup-nutupi kasus ini kepada orang tua siswa lainnya. "Harusnya mereka mengatakan apa yang sebenarnya terjadi sehingga orang tua lain jadi lebih waspada dan berani melapor," katanya. Dia juga meyakini bahwa masih ada pelaku lain yang belum terungkap. "Justru dengan semakin banyak yang melapor, identifikasi pelaku bisa lebih mudah dan kasus ini cepat terungkap."

    Pihak JIS sampai saat ini belum dapat dimintai konfirmasi. Kontak melalui telepon, e-mail, maupun didatangi tak mendapat tanggapan. Terakhir, Kepala Sekolah JIS Tim Carr menyatakan turut prihatin atas kejadian yang menimpa siswanya. Ia berjanji akan bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan untuk menangani kasus ini.

    "Fokus utama kami adalah kesejahteraan siswa dan keluarganya serta keamanan dan keselamatan dari komunitas sekolah," ujar Carr di kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Rabu, 16 April 2014. Seusai memberikan pernyataan, Carr yang ditemani sejumlah perwakilan sekolah langsung kabur. Tidak satu pun pertanyaan wartawan yang ia tanggapi.

    PRAGA UTAMA | APRILIANI GITA FITRIA

    Topik terhangat:
    Pelecehan Siswa JIS | Kisruh PPP | Jokowi | Prabowo | Pemilu 2014

    Berita terpopuler:
    Bikin Masalah di Sukamiskin, Nazaruddin Dipukul
    Mobil Esemka Generasi Terbaru Segera Meluncur 
    Dul Kini Tinggal dengan Maia Estianty 
    Siswanya Tenggelam, Wakil Kepsek di Korsel Gantung Diri


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Uji Praktik SIM dengan Sistem Elekronik atau e-Drives

    Ditlantas Polda Metro Jaya menerapkan uji praktik SIM dengan sistem baru, yaitu electronic driving test system atau disebut juga e-Drives.