Akses Jalan Ditutup, Proyek Tol Cijago Terhambat  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Alat berat melakukan pengerukan tanah di lokasi proyek pembangunan Jalan Tol Cinere-Jagorawi Seksi II, Margonda, Depok, Jawa Barat, Selasa (20/5). Jalan Tol Cinere-Jagorawi Seksi II terbentang sepanjang 5,5 Kilometer antara Jalan Raya Bogor hingga Kukusan, merupakan bagian dari pembangunan jalan tol Cinere-Jagorawi (Cijago) yang totalnya mencapai 14,64 kilometer. TEMPO/Subekti

    Alat berat melakukan pengerukan tanah di lokasi proyek pembangunan Jalan Tol Cinere-Jagorawi Seksi II, Margonda, Depok, Jawa Barat, Selasa (20/5). Jalan Tol Cinere-Jagorawi Seksi II terbentang sepanjang 5,5 Kilometer antara Jalan Raya Bogor hingga Kukusan, merupakan bagian dari pembangunan jalan tol Cinere-Jagorawi (Cijago) yang totalnya mencapai 14,64 kilometer. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CODepok - Jalan yang menjadi akses proyek pengerjaan Tol Cinere-Jagorawi di RT 3 RW 3, Kelurahan Kemirimuka, Beji, Depok, hingga pagi ini masih ditutup warga setempat. Akibatnya, pengerjaan perataan tanah di Tol Cijago seksi II itu tak bisa dilakukan (baca: Tol Cijago II Digarap 11 Bulan)

    Nety, 56 tahun, warga setempat, mengatakan hingga pagi ini tidak ada satu pun pekerja dari PT Hutama Karya yang berani membuka jalan yang ditutup. Mereka hanya mengeluarkan sebuah truk yang terjebak pada saat warga menggelar unjuk rasa kemarin. "Tidak ada yang berani buka. Jangan coba-coba dengan warga di sini," kata Nety, Selasa, 24 Juni 2014.

    Seperti diketahui, puluhan warga menggelar unjuk rasa kemarin. Mereka menghadang sebuah truk yang hendak keluar dari lokasi proyek melalui jalan yang menjadi akses tersebut. Pengunjuk rasa kemudian menutup jalan itu menggunakan tanah, bangku, batu, dan kayu. Para pekerja tidak bisa berbuat banyak selain mengikuti keinginan warga. 

    Pengunjuk rasa meminta kompensasi sebesar Rp 600-750 ribu per bulan apabila tol yang tengah dibangun sudah beroperasi. Tuntutan itu didasarkan atas perhitungan kerugian mereka akibat proyek jalan tol tersebut. "Kompensasi itu menjadi hak kami," kata koordinator lapangan aksi, Gugun Gunawan.

    Di wilayah pengerjaan itu, PT HK sebagai pelaksana pengerjaan projek sedang melakukan perataan tanah untuk konstruksi dasar jalan tol. Setiap hari ada sekitar 20 truk yang masuk mengambil tanah dan membawanya ke luar. Warga mengaku kegiatan itu telah mengganggu ketenangan mereka. Namun, pihak pelaksana proyek tak pernah memperhatikannya. "Truk keluar masuk dengan kencang sehingga debu-debu bertebaran, itu sampai malam," kata Nety. 

    Menurut Nety, warga tak akan membuka akses tersebut sebelum PT HK melakukan pembicaraan dengan warga. Dia meyakini PT HK mau tidak mau harus mendengar suara warga karena mereka butuh akses itu. "Paling nanti mereka datang untuk bicara. Itu yang diinginkan warga supaya mereka tak mengabaikan kami," katanya. (Baca: Hujan Hambat Penyelesaian Tunnel Tol Cijago)

    Pantauan Tempo, spanduk, bangku, bendera Merah Putih dan lainnya masih menutup total akses wilayah pengerjaan Tol Jalan Junda tersebut. Beberapa pekerja dari PT HK hanya melintas dengan menggunakan sepeda motor di jalur tanah. 

    Di wilayah perataan tanah tak terlihat satu pun truk yang mengambil tanah untuk dibuang ke luar. Dari lima alat berat di sana, hanya satu di antaranya yang terlihat menimbun tanah untuk dibuang keluar dengan truk. 

    Para pekerja buruh terlihat hanya duduk santai di tempat duduk dalam lokasi pengerjaan. Mereka mengaku belum menerima arahan apakah hari ini bekerja atau tidak. "Biasanya sudah ada arahan dari, tapi ini belum ada," kata salah seorang buruh, Menong, 28 tahun. 

    Bagian Pelaksana Lapangan PT Hutama Karya Mutiawarman mengatakan saat ini mereka akan melihat dulu intensitas gerakan warga. Mereka akan menerima aspirasi warga sepanjang masih dalam taraf kewajaran. "Kalau (penutupan) terlalu lama, ya kami negosiasilah," katanya. Negosiasi itu bukan berarti untuk memenuhi tuntutan mereka. "Tapi kami bicarakan baik-baik," katanya. (Baca:Tol Cinere-Jagorawi Ditargetkan Rampung 2015)

    Lahan jalan yang ditutup itu, kata dia, adalah tanah pemerintah karena telah dibebaskan. Warga sudah tidak punya hak atas tanah itu. "Kan itu sudah dibebaskan," katanya. Jangan sampai pengerjaan tol tertunda lama karena penutupan jalan oleh warga. "Tapi kami aman-aman saja sama warga, kami baik-baik kok."

    ILHAM TIRTA

    Berita lain: 
    Akil Mochtar Minta Kewarganegaraan Dicabut
    Rapor APBD DKI Merah, Ahok Bela Jokowi
    Jokowi Presiden, Risma Tak Mau Jadi Wakil Ahok

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.