Habis Mudik Lebaran, Terbitlah Social Jetlag  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang Polisi memeriksa identitas pemudik di dalam bus saat operasi penertiban pendatang pada arus balik Idul Fitri 1435 H di Terminal Ubung, Denpasar, 2 Agustus 2014. Operasi ini  bertujuan mencegah urbanisasi yang tidak terkontrol, pengangguran dan menekan angka kriminalitas di Pulau Dewata. ANTARA /Nyoman Budhiana

    Seorang Polisi memeriksa identitas pemudik di dalam bus saat operasi penertiban pendatang pada arus balik Idul Fitri 1435 H di Terminal Ubung, Denpasar, 2 Agustus 2014. Operasi ini bertujuan mencegah urbanisasi yang tidak terkontrol, pengangguran dan menekan angka kriminalitas di Pulau Dewata. ANTARA /Nyoman Budhiana

    TEMPO.CO, Jakarta - Sosiolog dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta mengatakan musim mudik Lebaran biasanya menimbulkan apa yang dinamakan social jetlag. "Social jetlag atau kelelahan sosial," kata Syarif saat dihubungi Tempo, Senin, 4 Agustus 2014. (Baca: Ahok Tak Gelar Operasi Yustisi Usai Lebaran)

    Syarif menuturkan kelelahan sosial ini merupakan fenomena menurunnya produktivitas masyarakat yang melakukan mudik. "Contoh paling gampang, setiap hari pertama kerja, banyak pegawai yang bolos bekerja," kata Musni. Biasanya, para pegawai butuh dua-tiga hari agar kembali bersemangat bekerja. "Buktinya, hari ini Jakarta belum terlalu ramai seperti biasanya." (Baca juga: DKI Tak Bisa Cegah Urbanisasi ke Jakarta)

    Jetlag berarti kondisi psikologis dan fisik berupa kelelahan yang timbul setelah seseorang melakukan perjalanan jauh atau terbang melewati zona waktu berbeda. "Mudik juga kan menguras energi karena harus menempuh jarak yang jauh, macet, dan berdesak-desakan di kendaraan umum," ujar Musni. "Gara-gara perjalanan yang melelahkan itu, sekembalinya dari kampung halaman, orang inginnya istirahat dulu, atau bisa juga karena masih rindu kampung." (Baca: Konsep Surat Perjanjian Pendatang di DKI Tak Jelas)

    Tidak hanya kaum pekerja, jetlag pascamudik juga bisa dialami siapa saja, seperti pedagang, anak sekolah, bahkan ibu rumah tangga. "Seharusnya, mudik dan khususnya Lebaran itu membuat kita lebih fresh dan termotivasi untuk lebih baik," tuturnya. "Sikap malas seperti itu harus dibuang jauh-jauh." (Baca: Kenapa Jakarta Selalu Jadi Magnet Urbanisasi?)

    PRAGA UTAMA

    Berita Lainnya:
    KJP dan KJS Bikin Pendatang Tertarik ke Jakarta
    Denda Parkir 1 Juta, Apa Kabar Operasi Cabut Pentil
    Kebijakan 3 in 1 dan Contraflow Kembali Berlaku


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.